Pasang Loker

Antariksa Akhmadi: Belajar Disiplin dengan Jadi Penerjemah

Sebagai seorang lulusan Fakultas Ilmu Budaya yang mempelajari bahasa, Antariksa Akhmadi melihat ada suatu hal yang menarik dari bahasa-bahasa di dunia. Menurutnya, ia juga bisa belajar banyak hal penting sembari menjadi penerjemah. Kira-kira apa saja ya Jobhuners? Yuk kita simak ceritanya!

Apa pekerjaan Antariksa sekarang ini?

Sekarang saya menjadi penerjemah in-house di Unair, kampus saya dulu, dan freelance translator di Go-Jek. Selain itu, saya juga banyak menerima permintaan untuk menerjemahkan manuskrip artikel jurnal dan dokumen-dokumen akademis lainnya dari dosen atau mahasiswa pascasarjana. Beberapa kali saya juga menerima proyek-proyek terjemahan lain seperti artikel web atau laporan, baik dari agency maupun klien perorangan.

Apa pekerjaan yang Antariksa jalani saat ini sudah sesuai dengan background akademik dulu?

Cukup sesuai sih, karena waktu kuliah memang belajar penerjemahan. Bahkan, skripsi saya sendiri tentang translation studies.

Kapan Antariksa mulai merintis karier di bidang ini?

Sekitar pertengahan tahun 2014, semester 3. Waktu itu sebetulnya tertarik menjadi penerjemah karena diajak salah satu dosen untuk jadi penerjemah dan copyeditor jurnal di fakultas.

Mengapa Antariksa tertarik untuk menekuni bidang ini?

Waktu kuliah, saya belajar bahwa sebuah pesan dalam satu bahasa itu ternyata nggak bisa sepenuhnya disampaikan dalam bahasa lain. Misalnya, di bahasa Indonesia kita bisa bilang “kami akan naik gaji.”, tapi di bahasa Inggris kalimat itu akan jadi “we will get a pay rise.” Yang diajak ngomong bakal bakal ngira bahwa dia bakal ikut naik gaji, padahal sebenernya nggak. Perbedaan “kami” dan “kita” itu nggak ada dalam bahasa Inggris.

Disitulah seninya menerjemahkan. Kalau diibaratkan musik, menerjemahkan itu mirip sama nge-cover lagu pakai alat musik yang berbeda. Misalnya lagu yang aslinya buat piano, tapi cover-nya pakai gitar. Bunyinya pasti akan beda, tapi pendengar harus dibuat merasakan bahwa musiknya sama. I think it’s kind of beautiful.

Menurut Antariksa, apa sih modal utama untuk menjalani pekerjaan ini?

Ada dua menurut saya. Yang pertama, jelas kemampuan bahasa, baik itu bahasa Indonesia atau asing. Yang kedua adalah kemampuan dan kemauan untuk terus belajar. Belajar itu bisa tentang materi yang kita terjemahkan atau belajar untuk upgrading skills, karena industri translation/language service itu cepat sekali berubahnya dan tuntutan klien semakin beragam. Masalahnya, nggak semua orang mau belajar. Makanya yang kedua ini lebih penting, karena itulah yang bikin seorang translator punya nilai jual lebih dibanding sesamanya.

Oh ya. Ada satu tambahan lagi, yaitu disiplin. Penerjemah (terutama yang freelance) itu bekerja mandiri. Nentuin harga, jam kerja, relasi ke klien, sampai ngatur deadline, semua dikerjakan sendiri tanpa ada orang lain yang mengawasi. Makanya harus disiplin. Sekali kita langgar deadline, bakal susah buat klien percaya lagi sama kita.

Sebagai translator, fokus Antariksa ke bahasa Inggris atau ada bahasa lain juga?

Sejauh ini bahasa Inggris dan Indonesia sih, pengin fokus dulu karena ini jenis teks dan service-nya kan macam-macam juga.

Tapi kalau misal kedepannya mau menambah belajar bahasa lain, Antariksa tertarik di bahasa apa?

Hmm, bahasa Mandarin sih. Karena ini kan potensi market-nya besar sekali dan masih akan berkembang terus. Cultural gap antara China dan negara lain, terutama barat, kan besar. Nah disitulah penerjemah bakal banyak dibutuhkan menurut saya.

Selain aktif sebagai seorang translator, apa kesibukan Antariksa lainnya?

Waktu kuliah, kesibukan utama di samping jadi penerjemah ya ngurus organisasi. Kebetulan sempat jadi ketua himpunan mahasiswa, tapi nge-translate-nya tetap jalan terus. Setelah lulus, saya sempat diundang untuk ngajar materi TOEFL. Selain itu, juga volunteering di Rumah Bahasa Surabaya, ngajar English Conversation.

Apakah Antariksa pernah mengalami momen stuck saat bekerja? Bagaimana mengatasinya?

Namanya bekerja pasti ada titik jenuhnya, meskipun dalam hal yang kita suka. Biasanya karena memang pikiran lagi mampet. Kalau begini ya solusinya istirahat dulu. Jalan-jalan, nonton film, baca buku, ya begitu-begitu lah. Biasanya dari hal-hal yang simpel itu bakal muncul inspirasi.

Apa suka duka bekerja di bidang ini?

Sukanya adalah nggak terikat jam kantor dan bahkan jarang perlu ke kantor. Nggak capek di jalan lah. Banyak waktu buat ngerjain hal-hal lain atau buat belajar, meningkatkan kemampuan. Memang ada beberapa acara atau tugas yang saya harus hadiri berhubung saya kerja di universitas, tapi untuk yang freelance-nya semua tergantung diri sendiri. Dukanya, karena semua tergantung kita sendiri, sehingga kita harus siap bekerja setiap saat, termasuk saat waktu liburan. Terus, kadang ada klien yang nakal, bahkan di awal-awal dulu saya sempat satu-dua kali nggak dibayar. Hahaha.

Selain itu, tentu pendapatan juga berkaitan dengan seberapa banyak pekerjaan yang kita dapat. Artinya, kalau mau tetap dapat banyak job, ya harus rajin-rajin cari klien baru dan branding diri sendiri sebagai penerjemah yang kompeten.

Apa hal paling berkesan selama Antariksa berkarier selama ini?

Banyak sekali ketemu orang baru yang wawasannya juga macam-macam. Juga banyak belajar tentang disiplin, karena jadi freelancer itu ternyata nggak hanya sekadar ngerjain kerjaan yang dikasih klien. Banyak hal yang perlu di-manage, seperti yang saya jelaskan sebelumnya.

Dalam menjalankan bidang ini, apa Antariksa punya role model tersendiri?

Mungkin bukan role model dalam bidang translation ya, tapi saya banyak terinspirasi sama Cal Newport, terutama karena bukunya, “So Good They Can’t Ignore You”. Buku itu memutar balik pandangan saya soal passion. Dia bilang bahwa skill itu nomor satu, dan passion itu bisa mengikuti kalau kita sudah terbiasa dengan skill yang kita punya. Makanya, lebih baik cari skill yang baik untuk masa depan kita dulu, nanti passion bisa mengikuti. Kalau katanya orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu tumbuh karena sudah terbiasa. Hahaha.

Sering kali pekerjaan yang harus diterjemahkan seorang penerjemah itu bukan tentang hal yang dia suka. Taruhlah saya. Saya lulusan Fakultas Ilmu Budaya, tapi yang saya kerjakan malah artikel tentang farmasi, kesehatan masyarakat, atau manajemen, misalnya. Mau tidak mau, ya harus belajar. Saya perlu tahu istilah-istilah di bidang-bidang yang bukan minat saya itu, supaya hasil terjemahan bisa bagus.

Apa target jangka pendek dan panjang yang ingin Antariksa capai ke depan?

Jangka pendeknya, mau rebalancing dulu sih. Kebetulan habis ini ada kerjaan baru dan harus pindah ke luar kota, dan itu agak keluar dari trek dari dunia bahasa atau terjemahan. Tapi jadi translator-nya bakal tetap jalan kok, hehehe. Kalau jangka panjangnya sih belum berani banyak share. Inginnya ya yang terkait dengan dunia akademik, tapi ini kan bisa macam-macam. Jadi, saya tetap berusaha terbuka dengan hal-hal yang baru.

Apakah ada saran dan tips untuk mereka yang mungkin ingin terjun ke bidang yang sama seperti Antariksa?

Dunia ini sedang cepat-cepatnya berubah. Kalau kita tidak mau belajar dan terus-terusan merasa cukup dengan diri sendiri, ya bersiaplah tersingkir. Begitu juga sebaliknya. Kalau kita senantiasa membuka diri dan belajar hal-hal baru, pasti akan selalu ada jalan buat kita di masa depan.

Untuk jadi penerjemah, intinya adalah banyak belajar. Sekali lagi, dunia translation/language service itu cepat sekali berubahnya. So, life-long learning is a must. Banyak yang bisa dipelajari, mau itu belajar kemampuan bahasanya, belajar subjek yang kita tekuni, bahkan belajar yang mungkin nggak nyambung sama keahlian kita tapi bisa aja kepakai. Rezeki (dan klien) datangnya bisa dari mana aja, kan?

Ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari dengan menjadi penerjemah ya, Jobhuners. Selain belajar bahasa atau materi lain yang harus diterjemahkan, kita juga belajar tentang kedisiplinan. Apakah setelah ini kalian ada yang pengin jadi penerjemah seperti Antariksa, Jobhuners?

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *