Belajar dari Para Founder McDonald’s dalam “The Founder (2017)”

Persistence. Nothing in the world can take the place of persistence. Talent won’t. Nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius won’t. Unrewarded genius is practically a cliché. Education won’t. The world is full of educated fools.

Jobhuners, ada nggak sih di antara kalian yang nggak suka BigMac atau McFlurry? Kayaknya nggak ada ya. Restoran dengan tagline “I’m lovin’ it” ini rasanya memang menjadi tempat makan favorit banyak orang di Indonesia. McDonald’s atau biasa disingkat McD ini merupakan salah satu restoran fast food terbesar di dunia. Namun, pernah nggak sih kalian penasaran bagaimana ide makanan cepat saji ala McD bisa tercetus? Kalau iya, kalian bisa menemukan jawabannya di film garapan John Lee Hancock yang berjudul The Founder.

Film ini menceritakan tentang sosok Ray Kroc (diperankan oleh Michael Keaton), pemilik perusahaan McDonald’s. Meski berstatus sebagai pemilik, tetapi sebenarnya Kroc bukanlah pemrakarsa konsep fast food ala McD. Mereka adalah Dick dan Mac McDonald (diperankan oleh Nick Offerman dan John Carroll Lynch), dua orang kakak beradik asal San Bernardino, California, yang pertama kali membuat konsep fastfood yang belum begitu familiar di tahun 40-an.

Ray yang saat itu merupakan pemilik perusahaan Prince Castle Sales yang memasarkan alat multi-mixer tertarik dengan konsep fastfood yang dijalankan Dick dan Mac di McDonald’s. Ia pun ingin mengajak mereka bekerjasama. Namun, di tengah perjalanan, banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka masing-masing. Dari cara mereka menyelesaikan masalah ini lah McDonald’s bisa dikenal banyak orang dan masih bertahan hingga saat ini.

Berdasarkan Rotten Tomatoes, film ini mendaptakan rating sebanyak 82% sedang di Metacritic, film ini mendapatkan skor 66, “menunjukkan ulasan yang baik”. Sebenarnya meski banyak kritikus yang memberi review positif pada film ini, namun reaksi penonton cukup beragam. Sejujurnya, setelah menonton film ini, penulis merasa kebingungan karena sulit membedakan manakah tokoh antagonis dan protagonis. Apakah Kroc orang jahat atau ia melakukan hal yang benar? Apakah Mac dan Dick harus dikasihani atau memang itu kesalahan mereka yang harus diterima? Hal ini menimbulkan banyak persepsi di kalangan penonton. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan total pendapatan kotor film ini tidak sebesar anggaran produksinya. Namun secara garis besar, film ini ingin menekankan tentang bagaimana seseorang harus mempunyai pemikiran dan visi yang luas dalam berbisnis, kalau tidak mau dihancurkan oleh sosok yang punya visi besar.

Selain bisa membuka pandangan kita tentang bagaimana proses berdirinya restoran favorit banyak orang ini, kita juga bisa belajar banyak nilai kehidupan dari film ini lho, Jobhuners. Setidaknya, kita tidak akan langsung menilai apakah seseorang itu baik atau jahat, karena tidak ada orang yang benar-benar baik atau benar-benar jahat. Mereka pasti punya sisi baik dan juga jahatnya masing-masing. Tinggal dari sisi mana kita melihatnya. Kalau menurut kalian, apa nilai yang bisa diambil dari film ini? Share di kolom komentar, ya!

Aisyah Rahmatillah

Highly interested in communication, media, and political studies

You may also like...

Popular Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *