Pasang Loker

Book Review: Are You Smart Enought to Work at Google?

Jobhuners, siapa sih di antara kita yang tidak tahu dengan Google? Mesin pencari raksasa ini sepertinya hampir tidak pernah tidak tahu semua hal. Semua informasi yang kita perlukan ada di Google. Jadi tidak salah kan kalau zaman sekolah dulu selalu mengandalkan Google untuk mencari definisi, ulasan, sampai sejarah hal tertentu? Kehadiran Google sangat membantu kita. Mau cari apa saja, Google punya jawabannya. Peta ke tempat tertentu, acara TV hari ini, resep masakan dunia dengan berbagai versi, dan masih banyak lagi.

1

Dengan produk yang luar biasa hebat ini, nggak salah lagi kalau di balik layar pasti ada orang-orang hebat yang berkarya dengan segala kemampuan teknis dan pastinya kreativitas tinggi. Dan tentu saja, seperti gosip yang mengudara, jadi karyawan Google itu seleksinya susah banget. Bahkan perbandingan antara yang diterima dari pelamar yang mencoba peruntungan itu adalah 1:130.

Setidaknya, itulah yang dikatakan William Poundstone dalam buku bertajuk “Are You Smart Enough to Work at Google?” Sesuai dengan judulnya, buku ini menantang pembaca yang punya keinginan untuk kerja di Google, seberapa pintar kamu berani lamar kerja di sini? Bukan main, dengan pekerja yang rata-rata lulusan kampus-kampus terbaik dunia, pelamar harus siap bekerja dengan segala tekanan dan tuntutan akan kreativitas maupun inovasi.

Buku ini bukan untuk menyudutkanmu sebagai orang yang (sepertinya) nggak layak masuk Google. Malah, setengah bagian dari keseluruhan buku berjumlah 290 halaman ini menjelaskan bagaimana cara menjawab pertanyaan aneh tapi nyata yang jadi bahan interview di kantor Google. Satu pertanyaan saja bisa dijabarkan cara menjawabnya dalam 8 halaman. Google sendiri, sedari dulu, dikenal punya sistem seleksi yang ketat namun unik, terutama di bagian sesi interview. Beda dengan model interview kerja di Indonesia yang masih didominasi dengan perilaku interviewer yang hangat dan (kelihatannya) sangat memujimu, proses interview di Google bikin pelamarnya ‘mikir keras’.

Sejumlah pertanyaan nggak umum akan dilontarkan sebagai bagian dari penilaian untuk mengetahui seberapa pintar dan kreatifnya kamu. Yah, jangan disamakan dengan pertanyaan model seleksi kerja di Indonesia ya. Percaya nggak percaya, pertanyaan seperti ini adalah bagian dari interview di Google:

  1. Apa yang muncul setelah urutan ini: SSS, SCC, C, SC…?
  2. Kamu punya satu juta server Apache, dan satu hari untuk menghasilkan 1 juta dolar. Apa yang kamu lakukan?
  3. Kalau kamu mau membawa anjing peliharaanmu ke kantor tetapi salah satu anggota tim-mu alergi terhadap anjing, apa yang kamu lakukan?
  4. Sebuah koin dijentikkan 1000 kali dan muncul simbol kepala sebanyak 560 kali. Menurutmu, apakah koinnya bias?
  5. Berapa banyak cara yang bisa Anda pikirkan untuk menemukan jarum di tumpukan jerami?
  6. Bagaimana kamu menjelaskan tentang ‘cloud computing’ pada anak berusia 6 tahun?
  7. Berapa banyak potongan rambut yang menurutmu terjadi di Amerika setiap tahun?
  8. Berapa banyak mobil melewati jembatan setiap harinya?
  9. Berapa jumlah judul buku diterbitkan di Amerika setiap tahunnya?
  10. Bagaimana kamu menyelesaikan masalah tunawisma di San Fransisco?

Bagaimana, unik kan pertanyaan-pertanyaannya? Tentu Google memiliki alasan menggunakan beberapa pertanyaan tersebut. Pertama, Google sudah mengantisipasi bahwa para pelamar sudah akan mencari review seleksi kerja di Google yang banyak dijabarkan dalam bentuk tulisan artikel di blog. Jadi, supaya mereka bisa mendapatkan kandidat terbaik yang jawabannya tidak sekadar copy-paste pelamar sebelumnya, tim seleksi Google menjaga originalitas dan update pertanyaan ajaib untuk seleksi demi seleksi.

Kedua, sudah jelas kalau di dunia kerja nantinya Google benar-benar membutuhkan orang yang kreatif, bukan hanya melakukan duplikasi. Perilaku seperti itu nggak akan bisa bertahan kerja di Google karena tekanan untuk berinovasinya sangat tinggi. Ketiga, format interview yang tidak hangat seperti proses wawancara kerja di Indonesia ini juga punya alasan, yaitu karena interviewer dari Google harus konsisten menjaga kondisi sehingga mereka bisa objektif melihat kemampuan dari pelamar, termasuk berada di bawah tekanan.

Keempat, yang paling penting, sebenarnya hal ini tidak jauh dari masalah kepekaan dan intelegensi. Beberapa pertanyaan memang didesain untuk dijawab dengan perumusan tertentu yang mungkin hanya orang-orang jenius yang tahu. Sebagian pertanyaan lain sejatinya hanya menguji kreativitasmu dalam berpikir dan menjawab. Lagi-lagi ini kembali pada pengujian terhadap diri pelamar: tentang kecerdasan, kemampuan teknis, stabil di bawah tekanan, dan punya kreativitas serta mau mewujudkan inovasi.

Meski mengusung nama Google dan sebagian besar membahas cara-cara menjawab pertanyaan nyeleneh dari Google sendiri, sejatinya buku ini layak dibaca untuk semua kalangan. Fresh graduate yang bahkan tidak kepikiran untuk kerja di Google juga wajib untuk membaca buku ini. Poundstone menyusunnya dengan apik.  Dari membaca buku ini kita bisa belajar untuk menata cara berpikir dan mengenali tipe-tipe pertanyaan dari interviewer yang sifatnya tricky. Jadi, nggak ada alasan untuk skip baca hanya karena kamu nggak berkeinginan untuk kerja di Google ya, Jobhuners.

Penulis: Dhalia Ndaru Herlusiatri Rahayu

Editor: Cynthia Cecilia

About Author

A writer | CEO @jobhun & @passionprojectlab
Director @startupgrindxsub | PR @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun