Pasang Loker

Citra Angga: Memilih Berkarir sebagai Dosen Muda karena Nasihat Sang Ibu

Jobhuners, kalau biasanya Jobhun banyak mengangkat profil karir pelaku industri kreatif, kali ini Jobhun bakal bahas karir seseorang di bidang pendidikan. Yuk kenalan dengan Citra Angga, seorang dosen muda di salah satu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Surabaya. Awalnya wanita dengan nama lengkap Citra Rani Angga Reswari ini ternyata tidak berangan-angan menjadi dosen lho. Malahan ia sangat menentang dan melarang dirinya sendiri untuk terjun menjadi tenaga pengajar seperti ibunya yang berprofesi sebagai guru. Alasannya karena Citra ingin menekuni bidang lain, yakni bidang industri kreatif dan media. Hal ini lah yang mendorong dirinya memilih jurusan ilmu komunikasi saat berkuliah.

Namun ternyata tak disangka ada perubahan pada dirinya semasa menempuh kuliah dan menapaki karir. Citra memutuskan untuk beralih profesi, bahkan memunculkan passion baru sebagai seorang dosen. Passion ternyata bisa diciptakan ya, Jobhuners, hehehe. Ia mencoba memberanikan diri untuk mengalahkan keraguannya dalam bidang ini. Menurutnya, keinginan menjadi dosen itu tiba-tiba muncul akibat pengalaman pribadinya. Citra merasa kurang mendapatkan pengarahan mengenai kemampuan yang dimilikinya dalam berkarir. Hal ini yang mendasari keinginan untuk menularkan ilmunya pada para mahasiswa agar setiap bakat yang dimiliki oleh individu bisa tersalurkan.

Bagaimana, penasaran dengan latar belakang Citra? Mari simak hasil interview Jobhun bersama dosen muda dadakan satu ini.

Bagaimana awal melangkah menjadi seorang dosen? Apakah ada dorongan dari orang tua atau memang telah menjadi cita-cita sejak awal?

Awalnya, alasannya karena setelah lulus kuliah saya membutuhkan penghasilan yang lebih dan ingin bisa memanfatkan ijazah yang sudah dimiliki. Selain itu, alasan keduanya karena pertanyaan ibu yang membuat saya berpikir menjadi seorang dosen. Saat itu ibu saya bertanya, “Kenapa tidak mencoba cari penghasilan dengan menjadi dosen saja?”. Kemudian saya jadi berpikir panjang. Akhirnya ibu saya pun kembali meyakinkan saya dengan nasihatnya, “Percuma saja punya ilmu banyak, punya gelar tinggi tapi kalau nggak bisa dibagikan dan tidak bisa bermanfaat bagi orang lain”. Benar saja, nasihat itu sampai ke hati saya.

Namun saya juga memiliki alasan lain. Saya termotivasi menjadi dosen karena ingin memberikan bimbingan dan pengarahan pada generasi muda untuk bisa mengembakan potensinya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, setiap orang yang sudah punya passion akan jauh lebih baik jika ada yang mengarahkan. Begitu juga dengan generasi muda sekarang yang sangat berbakat dan menyukai kegiatan praktek dalam pengembangan kemampuannya, otomatis saya semakin terpacu untuk berbagi ilmu dengan metode yang seru. Hingga akhirnya mereka benar-benar belajar dan meyakinkan diri atas kemampuan yang saya miliki untuk menjalankan profesi ini.

Lalu dari segi background pendidikan, mengapa Citra lebih memilih menjadi seorang dosen daripada bekerja di perusahaan corporate?

Saya lebih senang dengan dunia mengajar ini karena bisa menggerakkan dan mengarahkan berbagai kreativitas mahasiswa, daripada cuma sebatas kuliah di kelas terus pulang. Karena pada dasarnya menurut saya kuliah itu harus ada yang di-explore dan harus punya experience juga. Harapannya, setiap mahasiwa dapat menumbuhkan dan mengasah kreativitasnya masing-masing, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi yang pasti, setiap apa yang saya ajarkan setidaknya harus selalu memiliki value bagi mereka. Pada dasarnya generasi millennial kini jauh lebih suka berkarya untuk dapat memamerkan dan membuktikan keahliannya. Tak hanya itu saja, generasi millennial sekarang akan jauh lebih senang jika hasil kreativitasnya dapat diakui. Sehingga dengan begitu mereka akan terus semakin berkembang.

Apa tantangan berat menjadi seorang dosen muda?

Banyak juga tantangannya. Salah satu yang paling nampak dari saya mungkin tentang fisicly yang masih terlihat seumuran dengan kebanyakan mahasiswa saya. Karena itu juga akhirnya masih ada beberapa mahasiswa yang kurang menghargai jika belum tahu berapa umur saya. Selain itu, adanya perbedaan pandangan antara saya dengan para dosen senior lainnya juga menjadi tantangan. Mungkin ada dosen lain yang kurang memahami maksud dari metode pembelajaran saya yang lebih pada praktek, bukan pada teorinya. Kedua hal ini lah yang menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Tentu harus saya buktikan pada mereka bahwa metode yang saya gunakan sebagi bahan mengajar ini nantinya akan jauh lebih efektif daripada hanya sebatas belajar teori saja. Memang belajar teori itu penting, namun yang lebih penting ialah bagaimana caranya untuk bisa menyampaikan materi pada mahasiswa sesuai dengan harapan mereka. Dan dengan begitu, maka kegiatan belajar mengajar akan jauh lebih menyenangkan serta dapat semakin mudah menumbuhkan kreativitas mereka.

Membahas tentang metode belajar. Jika dilihat dari segi usia pasti antara Citra dan mahasiswanya tidak terpaut usia cukup jauh, sehingga mungkin kegiatan belajar mengajarnya menjadi jauh lebih asyik. Apakah ada kiat-kiat khusus yang diterapkan dalam metode mengajar ini?

Saya melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan sistem pendekatan yang berbeda-beda pada setiap karakter mahasiswanya. Tentu harus menyesuaikan dengan kemauan juga harapan pembelajaran yang mereka inginkan, namun tetap harus saling menghargai. Sehingga mereka juga harus tetap menyadari bahwa masih ada pembatas yang real antara saya sebagai dosen dengan mahasiswanya.

Bagaimana pengalaman mengajar pertama kali? Apakah langsung sesuai dengan ekspektasi sebelumnya?

Tentu saja belum, karena pada saat pertama kali masuk kelas saya harus menggatikan salah satu dosen senior yang sedang  bertugas di Australia. Saat itu belum masuk mata kuliah saya sendiri. Sehingga semuanya masih terasa aneh dan asing. Ditambah lagi saya juga belum terbiasa ngomong dan sharing di depan umum, otomatis jadi semakin aneh saja rasanya. Tetapi akhirnya lama kelamaan semua sudah semakin nyaman karena pada dasarnya seseorang itu bisa karena terbiasa.

Apakah sebelumnya Citra pernah bekerja di media?

Benar, tepatnya di radio lokal blitar bernama Panglima FM. Saya bekerja di sana selama 3 tahun saat SMA sebagai seorang presenter atau yang pada saat itu kerap disebut dengan VJ. Tak hanya itu, saya juga melakukan berbagai pekerjaan freelance lainnya, mulai dari promosi acara, menjalankan EO, hingga menjalankan PH (Production House) untuk mengerjakan berbagai produksi film dan iklan. Semua itu terpaksa harus saya akhiri karena saya ingin melanjutkan studi di kota pahlawan. Namun saat kuliah, kesibukan-kesibukan tersebut dapat saya temukan kembali di Surabaya ini. Melalui berbagai kegiatan kampus saya berhasil melakukan pekerjaan-pekerjaan ini lagi. Karena semasa kuliah mau tidak mau saya harus mampu berjuang kuliah sambil kerja untuk membanggakan ibu dengan prestasi yang berhasil saya raih.

Untuk pembagian waktunya sendiri, bagaimana cara Citra mengatur keseimbangan time management dari 2 pekerjaan ini?

So far masih aman-aman saja karena menjadi dosen itu tidak seperti PNS lain, sehingga untuk waktu kerjanya masih dapat disatukan dengan pekerjaan lain. Apalagi pekerjaan sambilan yang lain itu juga ada pada saat proyek datang. Sehingga keduanya masih bisa dilakukan dengan baik sampai sejauh ini. Tapi yang terpenting tetap harus ada susunan skala prioritas tentang mana yang harus diutamakan.

Apakah ada seseorang yang selalu memotivasi Citra untuk selalu bisa berkarir dan menjalankan pekerjaan ini?

Selain dari ibu saya, motivasi itu juga datang dari ibu Ade yang merupakan salah satu teman media saya. Keberhasilannya menjadi dosen muda bisa menjadi role model bagi saya. Selain itu, saya juga menyadari akan kodrat saya sebagai wanita yang tidak seharusnya berkarir tinggi-tinggi kalau pada akhirnya nanti keluarga saya akan terbengkalai. Hal ini juga yang akhirnya semakin membuat saya mantab memilih dunia mengajar ini sebagai profesi saya sekarang dan investasi saya di masa depan. Dengan mengajar, saya yakin ada tabungan tersendiri sebagai bekal saya di akhirat kelak.

Apa pengalaman memorable selama menggeluti 2 bidang pekerjaan ini?

Saya rasa pengalaman yang paling banyak memang dari bidang dosen. Saya merasa senang ketika pesan atau apa yang saya ajarakan pada mahasiswa berhasil sampai dan bisa mereka lakukan serta mereka implementasikan demi perkembangan kreativitasnya. Hal ini menjadi goals utama saya dalam mengajar mereka. Selain itu, saya juga bisa mendapatkan kepuasan tersendiri atas hal itu. Dan yang tak kalah memorable lainnya ialah ketika mengajar mata kuliah komunikasi organisasi semester 3, dimana pada saat itu ada salah saatu mahasiswa semester akhir yang harus mengulang kembali matkul tersebut. Ia mengaku sangat termotivasi dengan pengajaran saya, sehingga mata kuliah ini juga yang ia jadikan sebagai bahan skripsinya. Sampai akhirnya dia juga berkonsultasi langsung dengan saya membahas komunikasi organisasi ini. Dan kini mahasiswa itu sudah berhasil lulus. Otomatis dari hal ini juga saya merasa bahwa selama saya mengajar bisa diterima dengan baik oleh para mahasiswa. Ilmunya juga benar-benar bisa sampai pada mereka. Hal ini menjadi salah satu pengalaman yang paling memorable selama saya mengajar.

Apa tips dan trik ala Citra untuk para generasi muda yang ingin menjadi bisa mengikuti jejak sebagai dosen muda?

Keep follow your passion dengan arah yang tetap positif, kemudian minta support orang sekitar untuk semakin meguatkan niat dan tujuan kamu. Jangan mudah menyerah dan jangan mudah mengeluh tentang berbagai tantangan dan rintangan yang akan kamu hadapi. Kuncinya ialah selalu fokus dan tetap mengikuti flow-nya. Setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Terima masukan dari siapapun korektornya. Karena setiap kritikan pasti ada pesan implisit-nya. Kembali yakinkan dirimu bahwa kamu mampu dan kamu sanggup. Selalu ikuti kata hati dan jangan mudah berpuas diri. Karena bisa jadi posisi puncakmu merupakan ujian terberatmu, maka selalu berhati-hati dan koreksi apapun yang bisa kamu kembangkan lagi. Dan yang tak kalah pentingnya, selalu utamakan attitude dimanapun kamu berada karena generasi muda kini sangatlah mengalami krisis moral dan krisis sosial. Maka wujudkan mimpimu dan tunjukkan karyamu dengan beretika serta bermartabat. Sehingga kamu bisa memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya dan sebaik-baiknya hidup adalah yang bermanfaat cause your life in only one (YOLO).

Ternyata sangat menarik ya latar belakang kehidupan dari seorang ibu dosen muda ini. Jadi jika kamu juga mengalami  hal yang sama seperti Citra, jangan ragu untuk selalu mencoba hal baru dan menemukan passion-mu ya, Jobhuners! Lakukan apa yang kamu sukai, lalu buktikan bahwa kamu merupakan salah satu generasi millennial yang bisa berkreativitas tanpa batas.

(Artikel ini ditulis oleh Azizah Nuraini)

About Author

A writer | CEO @jobhun & @passionprojectlab
Director @startupgrindxsub | PR @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

1 Comment

  1. Mba Citra selamat malam. saya jug berminat menjadi dosen. Saya lulusan S2 Magister Manajemen SDM Mercubuana Jakarta . Pada dasarnya saya memiliki pengalaman yang berbeda , dimana saya memiliki passion utk mengajar . Hanya saya saat ini masih bekerja di bidang yang sama dalam perusahaan FMCG . saat sdh beberapa usaha saya utk memasukan cv dan resume utk mengajar parti time di lingkungan pendidikan universitas atau sekolah tinggi swasta . Namun saat ini masih belum berhasil . Adakah solusi utk hal diatas ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *