Pasang Loker

Coliving: Berbagi Tempat Tinggal, Solusi Mahalnya Harga Rumah

Jobhuners, apakah kamu termasuk pekerja sering menggunakan coworking space untuk bekerja? Saat ini coworking space di Indonesia sudah menjadi tren untuk para pekerja maupun komunitas startup. Tempat ini merupakan solusi untuk mereka yang ingin mempunyai kantor sendiri namun terhalang dengan biaya sewa kantor yang cukup mahal. Membantu banget kan, Jobhuners? Tidak hanya perusahaan saja, namun seorang pekerja freelance maupun pegiat komunitas juga sering memanfaatkan coworking space.

Namun tahun ini terdapat tren baru di berbagai belahan dunia, yakni coliving. Konsep coliving sebenarnya tidak berbeda jauh dengan coworking space, hanya saja di dalam coliving ini kalian bisa berbagi dalam sisi apa pun termasuk tempat tinggal. Coliving bisa juga diumpakan sebagai sejenis komunitas perumahan, dimana banyak orang berbagi satu rumah dengan area bersama seperti kamar mandi, dapur, dan ruang tamu serta fasilitas lainnya.

Coliving targetnya lebih kepada digital nomad yang biasanya bisa tinggal dan kerja di mana saja. Tempat ini juga bisa menjadi solusi atas tingginya harga properti di beberapa negara saat ini, salah satunya Indonesia. Konsep ini belum dikenal di kota besar yang ada di Indonesia karena baru ada di Bali saja, namun masyarakat Indonesia lebih mengenal konsep ini dengan sebutan kos-kosan.

Diisi dan dikelola secara profesional

Coliving diisi dan dikelola oleh para profesional. Jadi, bukan seperti kos-kosan yang hanya diisi oleh para pekerja kantoran dan mahasiswa yang biasanya hanya pulang untuk berganti pakaian, mandi, makan, dan beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Selain menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan membeli atau menyewa sebuah rumah, coliving juga memberikan kegiatan untuk berkomunitas seperti menonton film, mengadakan sebuah seminar atau workshop, mengadakan kelas olahraga bersama sesuai dengan minat dan passion dari para penghuni coliving sendiri. Dengan seperti itu, para penghuni coliving punya hal baru yang didapatkan dari tempat tingal mereka. Coliving membuat para milenial membangun bisnis dan koneksi di mana saja. Dilansir dari The New Daily, coliving tidak hanya berbagi rumah, tapi juga membangun rasa kebersamaan, efisiensi, dan berpikiran jauh ke depan.

Maju di negara berkembang

Salah satu negara yang paling cepat mengadopsi konsep coliving adalah China. Coliving bernama You+ telah berhasil menyatukan 10 ribu lebih orang dari 25 cabangnya di seluruh China. You+ menawarkan kamar berukuran 20-50 meter persegi dengan harga 2.000 Yuan atau berkisar 4,3 juta perbulan.

Harga ini cukup terjangkau dengan semua fasilitas yang ditawarkan, seperti kamar mandi pribadi dan dapur umur. Dikutip berdasarkan laporan QZ, ada beberapa warga Beijing yang menggunakan You+ ketika mereka sudah terlalu larut malam untuk pulang. Harganya lebih murah daripada harga hotel yang berada di kota tersebut, yakni berkisar 60 Yuan atau 130 ribu. Berbeda dengan di Asia dan Inggris, konsep ini sudah berkembang sejak tahun 2016 yang lalu. Namun harga yang dibayar sangat mahal untuk bisa mencoba coliving. Berkisar 1.000 Poundsterling atau 20 juta perbulan.

Menunggu coliving hadir di Indonesia

Pertanyaan yang muncul, apakah Indonesia sudah mengadopsi coliving? Maka jawabannya sudah, namun baru ada di pulau Bali saja. Meskipun masih belum begitu banyak. Coliving ini cukup diterima oleh para turis dan digital nomad yang datang ke Bali.

Sebenarnya konsep ini banyak dibutuhkan di kota-kota besar, contohnya Jakata, karena perlu diketahui bahwa harga beli dan sewa properti di kota tersebut sudah semakin tidak wajar dari tahun ke tahun. Kondisi ini membuat banyak orang menginginkan sebuah tempat yang bisa memberikan nilai lebih namun dengan harga yang ramah di kantong. Jika coworking space dianggap sukses dalam beberapa tahun yang lalu, kemungkinan besar hal ini juga akan terjadi pada coliving.

Jadi bagaimana, Jobhuners? Kalian pasti juga sudah tidak sabar menunggu coliving tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, kan? Semoga Indonesia tidak terlambat untuk merealisasikan konsep ini ya, Jobhuners

About Author

Saya adalah seorang mahasiswi semester 5 di sebuah perguruan tinggi STIKOM Surabaya yang sedang mencoba untuk menjajaki karir sebagai Penulis Content dan Penulis Code Program.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun