Pasang Loker

Profesi Data Scientist, Peramal di Era Digital

Meningkatnya jumlah perusahaan dan startup yang menggeluti bidang IT dan media sosial membuat profesi seorang data scientist semakin dibutuhkan.

Fajar Jaman, ketua komunitas DSI, menuturkan bahwa permintaan seorang data scientis terus meningkat seiring dengan berkembangnya startup di era millenials. Sedangkan menurut Harvard Business Review di tahun 2012, profesi data scientist merupakan salah satu profesi paling ‘seksi’ di abad 21 ini. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah profesi data scientist  meningkat hingga 30 kali lipat.

Artboard_11321gi

“Seorang data scientist dituntut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta gemar melakukan eksperimen terhadap data yang diterima”- Teguh Nugraha, data Scientist Bukalapak.

Simpelnya, tugas seorang data scientist adalah meganalisis data temuan. Dari sini, mereka dapat mengidentifikasi untuk menetukan layanan mana yang perlu ditingkatkan dan menjadi prioritas utama, serta mengomunikasikan hasil data temuan. Meski kelihatannya mudah, seorang data scientist dituntut harus memiliki skill dasar antara lain mampu mengelaborasi data, memiliki pengetahuan statistik, dan menguasai ‘machine learning’.

Nggak main-main, dilansir dari Glassdoor, rata-rata gaji pokok profesi data scientist di Amerika Serikat tahun 2016 berada di angka US$116.840 atau sekitar Rp 1,5 miliar lho..!

Sebagai jawaban atas meningkatnya profesi data scientist, beberapa perguruan tinggi di luar negri menyediakan program studi khusus untuk profesi ini. Beberapa universitas tersebut antara lain Macquaire University, Columbia University, New York University, Carnegie Mellon University, Arizona State University, University of Stanford, University of California, dan Berkeley. Secara umum mereka mengajarkan gabungan antara ilmu statistik dan ilmu komputer.

Nowadays, setiap orang di amerika bisa menjadi ‘mini‘ data scientist. Karena pemerintah di Amerika mulai mengajarkan warga sipil untuk menggunakan big data. Mereka merilis washington.gov/usds yang berisi ratusan ribu data set milik pemerintah dan dibuka secara umum. Banyak aplikasi dibuat untuk sektor pertanian dengan memanfaatkan data ini. Obama mengajak publik memanfaatkan layanan ini untuk “solve problems, save lives, and create jobs and opportunities“.

Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan yang menggunakan data scientist untuk mengolah big data, seperti Go-jek, Telkom Indonesia, Bukalapak, Taveloka, dan lain-lain. Hanya saja peminat profesi ini masih sedikit sehingga masih kurang tenaga profesional. Diperkirakan profesi data scientist akan lebih populer di Indonesia kurun waktu 5 tahun mendatang. Jadi, apa jobhuners tertarik menjadi seorang data scientist?

Artikel ditulis oleh Bachtiar Prananda

About Author

A writer | CEO @jobhun & @passionprojectlab
Director @startupgrindxsub | PR @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun