Pasang Loker

Fazrah Heryanda: Menjadi Penulis Itu Harus Banyak Membaca dan Berlatih

Fazrah Lillah Rizki Heryanda atau yang lebih akrab disapa Ian ini sudah tekun menulis sejak kecil. Beruntung, pekerjaan yang ia jalani pada akhirnya tidak jauh-jauh dari bidang tersebut. Selain sebagai copywriter, Ian juga bekerja sebagai editor untuk majalah. Aktif dengan kegiatan kepemudaan, Ian pun ikut menginisiasi program literasi bernama Literaturia yang telah berjalan hampir dua tahun lamanya. Nah, seperti apa cerita karier Ian? Yuk, simak!

WhatsApp Image 2018-08-02 at 08.24.47

Sejauh ini pekerjaan apa saja yang pernah Ian jalani?

Orang banyak mengenalku sebagai penulis, tapi selain bekerja paruh waktu sebagai penulis, aku juga pernah bekerja sebagai staf acara untuk EO. Rasanya, pekerjaan yang aku jalani tidak jauh-jauh dari dunia jurnalistik atau kepemudaan.

Lalu sekarang Ian bekerja di mana?

Karena sudah menjadi freelance copywriter sejak tahun 2015, aku pun masih betah untuk berada di bidang ini. Banyak orang di sekitarku yang masih belum paham tentang profesiku karena mereka berpikir bahwa menulis hanya terbatas untuk artikel saja. Tapi, sebagai copywriter, aku banyak bekerja dengan perusahaan besar, baik milik negara maupun swasta, brand maupun institusi sosial. Tanggungjawabnya tentu bukan hanya tentang menyampaikan atau memberikan informasi terkait klien saja, namun juga memberikan impresi yang baik kepada pembaca atau audiens. Selain bekerja sebagai copywriter, saat ini aku juga bekerja sebagai editor untuk majalah.

Apakah pekerjaan ini sudah sesuai dengan background akademis kamu? 

Pekerjaan dan latar belakang akedemisku sungguh kontras. Aku lulusan Statistika Universitas Airlangga.

Sejak kapan dan bagaimana awalnya bisa menekuni bidang ini?

Awalnya, aku sempat tidak percaya diri saat ditawari pekerjaan sebagai copywriter untuk pertama kali. Apalagi, proyek pertama yang aku jalani adalah untuk pengerjaan Company Profile Video Bank Jatim. Ini karena portofolio menulisku hanya berupa tulisan di blog, aku tidak pernah bekerja secara profesional sebagai copywriter. Di tahun 2015, profesi copywriter memang masih asing buatku. Namun, founder salah satu PH yang mengajakku meyakinkan bahwa aku akan bisa menjalaninya dengan baik. Akhirnya, setelah itu aku mulai belajar banyak tentang riset dan pengolahan konten dengan banyak membaca, berlatih, bahkan aku sempatkan untuk ikut kelas online juga.

Apa arti pekerjaan ini untuk Ian? 

Pernah mendengar pengalaman adalah guru yang berharga? Nah, seperti itulah menurutku arti pekerjaanku. Bekerja di bidang ini membantuku untuk tidak cepat puas dan menuntutku untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Apa saja sih suka dan duka bekerja di bidang ini?

Aku adalah tipikal orang yang suka sekali belajar hal baru. Menariknya, dengan profesiku ini, meskipun tugasnya sama, yakni menulis tapi aku jadi bisa menulis banyak hal. Dalam beberapa waktu, bahkan aku bisa mengerjakan konten untuk perusahaan, konten tentang kecantikan yang kasual, atau konten yang komprehensif untuk majalah. Dan meskipun masih dalam satu lingkup, aku harus berpikir bagaimana menemukan gaya bahasa yang pas, bagaimana memberikan impresi yang terbaik sekaligus membangun engagement dengan pembaca dan audiens ataupun bagaimana meyakinkan klien bahwa apa yang aku tulis adalah konten yang memang merepresentasikan mereka. Sementara dukanya, aku rasa ini sama seperti banyak pekerja paruh waktu di luar sana, banyak yang terkadang masih menganggap pekerjaan kami ini begitu mudah. Selain itu, ketidaksiapan atau kebingungan klien tentang apa yang harus disiapkannya bisa memakan waktu lama dan mengakibatkan proyeknya pun mundur dari deadline yang telah disepakati.

Bagaimana cara menemukan konten yang menarik untuk diulas ala Ian?

Buatku, tidak ada cara yang lebih baik selain memperkaya wawasan. Jadi memang harus banyak membaca, mendengarkan podcast, hingga menonton series atau film. Biasanya, setelah mendengarkan podcast, aku akan riset lagi lebih lanjut tentang topik tersebut. Begitu juga saat menonton series atau film. Selain ketiga langkah di atas, biasanya aku akan banyak ngobrol dengan teman-temanku juga untuk memperkaya sudut pandang. Namun, ketika aku bekerja di salah satu majalah, biasanya cara untuk menentukan konten yang menarik adalah dengan brainstorming terlebih dahulu. Topiknya sungguh beragam, mulai dari politik, psikologi, hingga kesehatan. Lantas, setelah itu, kita kerucutkan lagi sesuai dengan urgensi topik masing-masing terhadap target pembaca atau audiens. Misal, konten tersebut sudah dibahas, maka kita akan kembali berkumpul dan berbagi pendapat untuk mendapatkan angle penulisan dan penyajian yang berbeda.

1

Menurut Ian, konten yang menarik itu seperti apa?

Konten yang bisa membuat kita berpikir dan membuat kita semakin tertarik untuk mendalaminya.  Misalnya, saat bekerja di majalah, tim pernah mengangkat topik tolerance and acceptance yang tidak hanya membahas dari sudut pandang umum saja namun dari segi psikologi dan ilmu komunikasi. Konten yang seperti ini menurutku menarik karena menyajikan perspektif baru.

Bagaimana tanggapanmu soal plagiasrisme konten?

Pemanfaatan internet memang memicu kita untuk mudah copy-paste. Plus, di internet juga ada konsep anonimitas, banyak orang yang akhirnya mudah berlindung membagikan konten yang bukan ciptannya dan merampas hak sang kreator. Ini sungguh tindakan yang tidak terpuji. Karena itulah, aku selalu berpegang teguh agar konten yang aku buat ini benar-benar merupakan hasil dari proses pemikiranku. Kalaupun suatu hari nanti, aku menemukan kontenku dimanfaatkan secara tidak bertanggungjawab, aku tidak akan berdiam diri.

Sebagai editor, kesalahan umum seperti apa yang biasa kamu temui pada penulis pemula?

Biasanya adalah tentang ketidaksesuaian paragraf ataupun penggunaan kalimat yang tidak efektif. Ketidaksesuaian paragraf ini maksudnya adalah misal paragraf pertama membahas A, maka harusnya paragraf kedua masih berhubungan dengan A, namun yang ditemui justru tentang D. Kedua, kadang bahkan antar pernyataan yang tercantum dalam paragraf pun bisa saja berbeda dengan kesimpulan. Penggunaan kalimat yang tidak efektif juga seringkali ditemui. Misal, adanya pernyataan yang berulang-ulang atau tidak perlu dalam tulisan.

Apa pengalaman paling memorable selama berkarier di bidang ini? 

Tidak pernah terpikirkan untuk berkarier di bidang ini, aku tentu bersyukur diberikan banyak kesempatan oleh Tuhan untuk mengembangkan diri. Aku rasa pengalaman yang tidak bisa terlupakan ialah bagaimana audiens maupun pembaca yang membaca dan melihat karyaku, mengapresiasi apa yang sudah aku ciptakan. Mendapatkan feedback positif, baik itu di kolom komentar ataupun direct message di IG beberapa kali menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagiku.

Selain menekuni bidang ini, apa lagi nih kesibukan Ian sekarang? 

Aku juga aktif dalam kegiatan kepemudaaan di Surabaya Youth. Sejak masih duduk di bangku kuliah pun, aku telah aktif berorganisasi dan berkomunitas. Ini melatih soft skill yang tidak bisa aku dapatkan saat kuliah. Di Surabaya Youth sendiri, aku menginisiasi program literasi bernama Literaturia yang telah berjalan hampir dua tahun lamanya. Literaturia pun telah menjadi platform positif bagi anak muda Surabaya, terutama untuk kegiatan membaca, menulis, dan berdiskusi.

Apakah ada goals yang hendak dicapai dalam waktu dekat?   

Mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi aku ingin melanjutkan S2 sesuai dengan pekerjaan yang aku jalani saat ini. Jadi, sekarang sembari bekerja juga sudah mulai banyak melatih kemampuan bahasa Inggrisku dan mencari universitas yang sesuai dengan jurusan yang aku inginkan.

Siapa role model Ian selama ini? 

Role model? Wah, kalau disebutkan satu-satu tentu banyak ya! Tapi aku banyak belajar dari Ayah dan Bunda. Tanpa mereka yang sering mengingatkanku untuk terus melakukan yang terbaik dalam segala hal, termasuk mendorongku terjun dalam aktivitas di luar kampus, mungkin aku akan tetap jadi pribadi yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri.

Apakah ada saran atau tips untuk mereka yang ingin menggeluti bidang yang sama dengan Ian? Juga apa nih saran untuk para penulis pemula?

Agak susah nih, kalau ditanya tentang saran atau tips karena aku pun masih dalam tahap belajar juga. Tapi, sejujurnya untuk bidang yang aku geluti bukan terbentuk dalam setahun dua tahun saja. Aku sudah menulis sejak aku kecil. Jadi, ya memang perlu banyak latihan. Seringkali ketika mengisi workshop, banyak yang bertanya tentang cara menulis yang baik secara instan dan malu ketika diminta untuk membacakan karyanya karena mereka merasa tulisannya tidak bagus. Tapi, aku selalu meyakinkan mereka bahwa dalam proses kreatif apa pun, percobaan pertama ya mustahil untuk langsung menghasilkan tulisan yang bagus. Karena itulah, tips dan saran dariku: banyak membaca dan berlatih. Sekarang sudah banyak platform yang mau menerbitkan karya tulisan, jadi kalian yang harus inisiatif dan aktif untuk terus menulis.

Nah, memang tidak ada yang instan lho Jobhuners. Perlu banyak membaca dan berlatih untuk mengasah kemampuan, terutama jika ingin memasuki bidang yang sama seperti Ian. Coba deh menjadi lebih aktif untuk berkarya mulai sekarang.

Penulis: Cindy Faradhila

Editor: Cynthia Cecilia

About Author

A writer | CEO @jobhun & @passionprojectlab
Director @startupgrindxsub | PR @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun