Pasang Loker

Mengenal Kesehatan Mental dan Bagaimana Menjaganya Agar Tetap Baik

Maraknya kasus bunuh diri yang disiarkan secara online melalui berbagai platform media sosial menjadi sebuah fenomena yang akhir-akhir ini banyak diberitakan. Tak hanya di Indonesia saja, kasus serupa juga terjadi di luar negeri. Banyak faktor yang melandasi keputusan pelaku untuk mengakhiri kehidupannya. Hal ini menjadi cermin bahwa masalah kesehatan mental sejatinya menjadi isu yang dihadapi masyarakat dunia, bukan segelintir orang saja.

Jobhuners, masalah kesehatan mental ini pada dasarnya bisa menyerang siapa saja lho. Mulai dari pelajar, pekerja, orang tua, wirausaha, apapun statusmu, penyakit ini mengintai dan mencari mangsa. Di perusahaan khususnya, banyak sekali sebenarnya karyawan yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Sayangnya, tidak semua pihak manajemen perusahaan peka dan mampu memonitoring kesehatan mental para karyawannya. Padahal, bila ada kejadian gangguan kesehatan mental pada karyawan mereka, perusahaan juga bisa menanggung kerugiannya. Maka dari itu, supaya kamu lebih tahu dan aware dengan kondisi ini kami menyediakan informasi yang dirangkai dengan sederhana berikut ini.

1

Pengertian kesehatan mental

Menurut mentalhealth.gov, kesehatan mental mencakup semua aspek kesehatan pada diri seseorang mulai dari kesehatan emosi, psikologis, dan kesejahteraan sosial. Isu ini bisa memengaruhi cara kita berpikir, berperasaan, sampai berperilaku. Pada akhirnya, kesehatan mental juga memengaruhi hubungan sosial kita di masyarakat, tentang bagaimana kita mengatur stress dalam diri, berhubungan dengan orang lain, sampai pada kemampuan untuk membuat keputusan.

WHO sendiri mendefinisikan kesehatan mental sebagai status kesejahteraan seseorang yang mana ia menyadari potensi dalam diri, bisa menangani tekanan hidup dalam batas normal, bisa bekerja secara produktif dan bahagia, sampai bisa membuat kontribusi untuk komunitasnya.

Gejala yang muncul dari penderita

Gangguan kesehatan mental tentu saja merupakan lawan dari kondisi yang disebutkan dalam definisi di atas. Akan tetapi, gangguan tersebut tak lantas tiba-tiba muncul dan langsung membuat penderitanya merasakan perubahan dalam dirinya secara drastis. Penyakit ini memiliki gejala awal yang sebaiknya disadari, baik oleh orang itu sendiri, rekan, atasan, pasangan, dan keluarganya. Beberapa kondisi yang mengindikasikan seseorang mulai terjangkit gangguan kesehatan mental dilansir dari mentalhealth.gov antara lain:

  • Tidur terlalu lama atau terlalu singkat;
  • Menarik diri dari interaksi sosial dan aktivitas kesehariannya;
  • Tidak bergairah;
  • Merasa hampa dan tidak ada masalah;
  • Merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan;
  • Merasa tidak punya harapan atau tidak ada pertolongan dari orang lain;
  • Merokok atau minum minuman beralkohol dengan porsi lebih dari porsi biasanya;
  • Menggunakan narkoba;
  • Merasa linglung, mudah lupa, mudah marah, mudah kecewa, mudah takut;
  • Sering berteriak atau bertengkar dengan keluarga dan teman;
  • Mengalami moodswings yang menyebabkan permasalahan pada hubungan sosial;
  • Memiliki pemikiran bahwa tidak bisa keluar dari stres yang dialami;
  • Merasa mendengar suara dan mempercayai hal yang tidak benar atau tidak nyata;
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain; sampai
  • Tidak mampu memberikan kinerja yang baik seperti biasanya.

Tindakan yang bisa dilakukan

Jobhuners, kalau kamu merasa ada beberapa hal yang kamu sadari terbukti pada dirimu seperti apa yang sudah disebutkan di atas, ada kemungkinan kamu mengalami gangguan kesehatan mental. Tidak perlu panik, tidak perlu denial. Mengalami gangguan kesehatan mental bukan berarti kamu gila, bodoh, atau tidak normal seperti teman-teman yang terlihat sehat. Orang lain yang kamu lihat sepertinya sehat-sehat saja bisa saja menyimpan beban mental illness yang lebih besar.

Pertolongan paling akhir bila kamu tidak bisa mengendalikan masalah ini tentu saja menghubungi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan bantuan secara medis. Namun, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan bila kamu masih ragu untuk menceritakan masalahmu pada tenaga medis terpercaya.

  1. Mengenali gejala

Menilai diri sendiri adalah hal yang relatif sulit. Memang harus diakui kalau tidak semua orang bisa melakukannya untuk melihat adanya perubahan secara obyektif. Namun penting bagimu untuk belajar mengenali gejala yang mungkin kamu alami dalam beberapa waktu terakhir ini. Gejala yang paling bisa ‘terlihat’ adalah perasaan cemas berlebihan, merasa mudah lelah, sulit sekali berkonsentrasi, sampai mengalami insomnia padahal sebelumnya tidak pernah merasa demikian.

  1. Bercerita pada orang yang dipercaya

Punya masalah? Jangan dipendam sendiri. Berbagilah keluh kesah dan perasaanmu selama ini kepada orang yang kamu percaya. Ingat, harus yang kamu percaya ya. Yang pasti bisa menjaga rahasia dan bisa mendengarkan kamu dengan baik. Mungkin mereka tidak bisa memberikan jawaban yang solutif, tetapi mereka bisa mendengarkan apa yang ingin kamu lepaskan dari pikiranmu selama ini.

Jika bercerita saja tidak cukup karena temanmu tak cukup mampu memberikan solusi, maka kamu harus berani mencari pertolongan kepada tenaga profesional. Sekali lagi, jika memang dibutuhkan, hubungi psikolog, psikiater, atau tenaga medis yang memang profesional di bidangnya. Mereka lebih mampu menangani masalah kesehatan mental secara lebih baik dan pasti identitasmu akan sangat dirahasiakan. Jangan merasa dengan menghubungi psikolog kamu adalah orang gila. Tidak, kamu adalah orang hebat yang tahu kapan waktunya untuk mencari pertolongan untuk kembali bertempur dalam kehidupan di dunia ini.

  1. Analisa bagaimana cara kerjamu

Apakah selama ini kamu selalu menomorsatukan pekerjaan? Well, mimpi untuk dipuji dedikatif justru bisa berbalik menjadi penilaian bahwa kamu tidak bisa memanajemen pekerjaan.

Tidak semua beban pekerjaan harus kamu tanggung sendiri. Itulah mengapa perusahaan membuat banyak divisi dengan tugas masing-masing dan diisi oleh tenaga pekerja profesional di bidangnya. Ditambah, di dalam divisi pun diisi oleh beberapa orang. Tujuannya tidak lain untuk bekerja sama sehingga pekerjaan bisa lebih optimal dan cepat selesai. Ingat, untuk bekerja sama, bukan sekadar untuk bekerja bersama. Paham bedanya?

  1. Komunikasikan pada atasanmu

Suka tidak suka, statusmu sebagai karyawan tetap menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan tempatmu bekerja. Jadi kamu harus berusaha membuat perusahaan memahami kondisi dirimu – dalam batas wajar. Merasa tertekan dengan pekerjaan? Beban kerja yang semakin berat? Tidak punya waktu untuk diri sendiri? Utarakan kepada atasanmu.

Berbicara adalah pintu awal untuk mendapatkan bantuan. Dengan memperbolehkan atasanmu memahami masalahmu didukung alasan kuat yang berpengaruh pada kualitas hidupmu, kamu bisa mendapatkan solusi. Mungkin penyelesaiannya tidak akan berfokus pada dirimu saja karena tentu perusahaan akan mempertimbangkan kepentingan lainnya, tapi setidaknya solusi diplomatis dari perusahaan bisa sedikit mengurangi beban yang kamu tanggung selama ini.

  1. Penuhi kebutuhan fisikmu

Makan bergizi, olah raga teratur, dan tidur yang cukup. Tiga hal tadi adalah contoh dasar dari perilaku mencintai diri sendiri dari segi pemenuhan kebutuhan fisik. Hal ini bisa menjadi bantuan untuk memulihkan kondisi kesehatan mental yang buruk sekaligus mempertahankan kesehatan mental yang positif. Harapannya, dengan membiasakan diri untuk memenuhi kebutuhan fisik secara baik, proses untuk kembali mendapatkan semangat sembuh dari belenggu mental illness bisa lebih cepat. Ingat, mens sana in corpore sano yang artinya “Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.”

Selain ada usaha dari kamu selaku karyawan, sejatinya perlu diketahui juga oleh manajemen perusahaan bahwa terdapat faktor dari perusahaan yang bisa berkontribusi pada kesehatan mental karyawannya. Bila dirasa perlu, kamu bisa memasukkan saran yang membangun terkait upaya perusahaan agar lebih memperhatikan kesehatan mental pekerja. Meski begitu, keputusan akhir tetaplah milik manajemen.

Nah, Jobhuners. Sudah tahu kan sekilas tentang masalah kesehatan mental di kalangan para pekerja kantoran? Kalau kamu salah satu yang mengalami, tidak perlu rendah diri dan merasa kamu bermasalah. Nyatanya memang bukan cuma kamu kok yang mengalaminya. Kamu bisa mencoba alternatif yang kami berikan tadi, baik step by step maupun kombinasi beberapa tips sekaligus. Harapan kami, kamu bisa segera mendapatkan solusi penyelesaian dan segera bisa produktif lagi. Semangat selalu, Jobhuners!

Penulis: Dhalia Ndaru Herlusiatri Rahayu

Editor: Cynthia Cecilia

About Author

A writer | CEO @jobhun & @passionprojectlab
Director @startupgrindxsub | PR @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun