Pasang Loker

Qubicle dan Open Space: Apakah Perubahan Dirasa Perlu?

Ungkapan Internet of Things terasa kian nyata akhir-akhir ini. Banyak aspek kehidupan manusia yang sudah terintegrasi dengan dunia cyber, tak terkecuali dunia industri. Ayo jujur, siapa dari Jobhuners yang sering menggunakan layanan pesan antar makanan melalui ojek online? Atau mungkin hampir selalu mencari promo situs belanja online untuk berbelanja? Inilah gambaran kecil dari konsep Internet of Things yang memang sudah merengkuh aspek industri hingga melahirkan revolusi industri 4.0 .

Dilansir dari ubahcarakerjamu.com, konsep industri 4.0 pertama kali dipopulerkan Profesor Klaus Schwab, asal Jerman. Dalam karyanya The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab menjelaskan, revolusi 4.0 adalah tahap industri mulai menyentuh dunia virtual, baik dalam bentuk konektivitas manusia, mesin dan data yang tersebar dalam dunia digital.

Lahirnya revolusi industri 4.0 ini mau tak mau sudah mengubah pola tingkah laku kita sebagai manusia. Banyak perusahaan mulai aware akan hal ini. Mereka memutuskan untuk melakukan perubahan yang berarti, dan salah satunya adalah memperhatikan desain ruang kerja di dalam kantor mereka.

Desain meja kerja tanpa sekat atau open space memang sedang populer akhir-akhir ini. Banyak perusahaan mulai memikirkan ide untuk mengganti ruang kerja tradisional mereka yang biasanya berbentuk cubicle, dengan konsep baru ini. Konsep open space ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi antar karyawan sehingga ide cemerlang –mungkin saja– akan mengalir deras dengan sendirinya.

Karyawan yang sudah mulai diisi oleh generasi milenial menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk mulai menerapkan desain ruang kerja open space ini. Generasi yang menjadikan internet sebagai kebutuhan tersebut, memang menyukai gaya ruang kerja terbuka untuk memaksimalkan kinerja mereka. Namun, apakah konsep open space ini benar-benar nihil akan kekurangan? Jawabannya adalah belum tentu.

Dalam jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B, dua peneliti Harvard, Ethan Bernstein dan Stephen Turban pernah melakukan riset terhadap 500 perusahaan yang berencana mengubah konsep ruang kerja mereka dengan menggunakan open space. Mereka bertujuan membandingkan bagaimana para karyawan perusahaan berinteraksi sebelum dan setelah menggunakan konsep desain baru. Hasilnya, ternyata interaksi antara pekerja jauh menurun. Pada saat bersamaan, justru aktivitas email masuk dan pesan singkat di telepon seluler antar pekerja meningkat drastis.

Berdasarkan hasil penelitian ini, nyatanya konsep open space masih memiliki kekurangan. Tidak semua orang terbiasa akan konsep terbuka yang satu ini. Generasi non milenial yakni generasi X serta baby boomers masih menganggap ruang kerja tradisional lebih nyaman karena dianggap bisa fokus untuk bekerja. Belum lagi orang yang memiliki kepribadian introvert yang cenderung membutuhkan ruang sendiri tak terkecuali untuk bekerja.

Kedua gaya ruang kerja, baik cubicle yang tradisional, serta open space  yang lebih modern memiliki peminatnya masing-masing. Ada yang nyaman bekerja di open space, dan ada pula yang sebaliknya. Perusahaan tentu boleh berinovasi semaksimal mungkin untuk memaksimalkan kinerja pegawai. Namun, preference dari masing-masing karyawan tetap patut untuk dijadikan pertimbangan dalam segala perubahan yang mungkin akan dilakukan. Perencaan matang perlu dipikirkan saat ingin melakukan perombakan lingkungan kerja. Ini karena, kinerja baik karyawan ditentukan –tidak lain tidak bukan– oleh tempat dimana ia bekerja itu sendiri. Kalau Jobhuners, lebih suka konsep tradisional qubicle atau konsep kekinian open space?

About Author

Masih Berkegiatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *