Sekar Wulandari: Mendesain Lewat Prespektif Pembaca Buku

Home / Blog / Sekar Wulandari: Mendesain Lewat Prespektif Pembaca Buku

Tidak bisa menggambar tidak menjadi halangan untuk Sekar Wulandari dalam menjalankan bisnis ilustrasi sampul buku. Bersama pasangannya, perempuan yang akrab dipanggil Ndari ini pun membangun bisnis bertajuk Sukutangan. Selain memang hobi membaca, kecintaannya pada dunia literasi juga diwujudkan melalui sebuah perpustakaan yang ia dirikan di Surabaya. Ndari pun pernah menerjemahkan buku berjudul Looking for Alaska milik John Green. Dengan hobi membaca, Ndari akhirnya bisa memberikan pemaknaan yang lebih murni mengenai visual sampul buku. Hingga saat ini, Ndari bersama Sukutangan telah menghasilkan aneka ilustrasi menarik untuk banyak cover buku. Seperti apa cerita karier Ndari? Yuk, simak!

SEKAR_KARIER

Apa Ndari memiliki background akademis di bidang seni?

Saya tidak punya latar belakang akademis di bidang seni ataupun desain. Saya kuliah di Jurusan Psikologi, tapi selalu punya ketertarikan di bidang ini. Saya merasa, saya punya mata yang cerdas untuk menentukan visual yang bagus atau yang tidak, dan memiliki konsep-konsep yang segar. Saya kemudian belajar dasar-dasar desain dari Genta dan buku-buku, serta memperdalam referensi cover buku yang diterbitkan di Indonesia dan di luar negeri.

Sukutangan itu apa sih? Bagaimana awalnya menemukan ide membuat ini?

Sukutangan berawal dari akun pribadi Genta, pasangan sekaligus partner kerja saya, yang difungsikan sebagai ruang katarsis. Objek utama yang menjadi kontennya berupa tangan-tangan yang sedang berjalan, atau melakukan aktivitas tertentu. Hingga suatu hari kami berdua diajak untuk menjadi bagian dari sebuah pameran seni, dimana saya menulis sebuah cerita dan Genta meresponsnya dalam bentuk ilustrasi. Dari situ kami merasa cocok untuk bekerjasama, kemudian datanglah kesempatan untuk kembali berkolaborasi dalam perancangan sampul buku. Hingga akhirnya kami putuskan untuk menjadikan Sukutangan sebagai brand, sebagai perancang sampul buku.

Apa bagian Ndari di Sukutangan?

Dalam tim, saya bergerak sebagai account executive dan art director. Sebagai account executive, saya menjadi perantara antara klien atau calon klien dengan kami. Biasanya terkait urusan harga, syarat dan ketentuan, serta pengarahan jika sudah ada kesepakatan antara kami dan klien. Setelah itu, barulah peran saya sebagai art director dimulai.

Bagaimana proses kreatif yang Ndari lakukan sebelum mendesain?

Sebagai art director, saya selalu mengusahakan untuk membaca buku yang akan didesain sampulnya sampai habis, supaya bisa punya gambaran yang konkrit tentang buku tersebut. Apalagi karena pada dasarnya saya adalah seorang pembaca, jadi saya pakai naluri sebagai seorang pembaca untuk menemukan gambaran visual yang tepat. Biasanya, saya akan meminta naskah lengkap, atau sinopsis jika naskah tersebut belum jadi atau belum boleh dipublikasikan. Biasanya saya mencatat poin-poin utama dari plotnya, lalu penggambaran karakter, latar belakang waktu dan tempat, genre, bagaimana tone bukunya, dan perasaan apa yang penulisnya ingin gali dari pembaca setelah menyelesaikan bukunya. Perasaan ini yang kemudian ingin saya sampaikan ke dalam bentuk visual.

Setelah mempelajari bukunya, saya membuat moodboard berisi sketsa sederhana dari konsep yang saya punya, meliputi komposisi objek, jenis font, palet warna, gaya visual, elemen-elemen maupun karakter yang ingin ditampilkan, serta filosofi dan pengertian dari masing-masing simbol. Setelah itu, saya akan brainstorm sketsa ini dengan Genta, menambahkan dan mengurangi yang perlu, lalu dia melakukan finalisasi dalam bentuk ilustrasi dan desain grafis.

Pernah mengalami stuck saat mendesain?

Tentu saja pernah, terutama karena seringkali proyek datang beruntun sehingga waktu yang untuk brainstorming sangat mepet. Rasanya otak seperti kering karena ide-ide sudah dipakai semua. Saat stuck, biasanya saya “cuci mata” dengan melihat-lihat visual yang tidak ada hubungannya dengan buku, seperti poster, cover album, lukisan, film, desain interior, fashion, arsitektur, apapun. Dengan memperluas sudut pandang, biasanya saya menemukan ide baru. Saya juga sering mempelajari desain dari negara lain supaya referensi saya tidak repetitif. Saya juga beruntung bisa bekerja dengan pasangan dan sahabat saya sendiri, jadi saya bisa terus mengajaknya diskusi.

senja

Apa ciri khas Ndari dalam mendesain, kriteria seperti apa yang Ndari gunakan dalam menilai hasil karya sendiri?

Saya rasa, saya bisa memberikan perspektif yang segar karena saya memang tidak punya latar belakang desain atau seni. Sudut pandang saya murni sebagai penikmat, sebagai pembaca, sebagai “target” dari produk yang sedang kami coba jual. Ilmu psikologi yang saya pelajari seringkali digunakan dalam pemilihan obyek dan warna, melengkapi ilmu desain dan kemampuan ilustrasi yang Genta miliki. Saya anti sekali menggunakan elemen visual yang tidak ada hubungannya dengan cerita, atau digunakan hanya karena sedang tren dan “Instagram-able”. Sebisa mungkin saya menyajikan desain yang tak hanya memanjakan secara visual dan punya nilai jual, tapi juga cerdas dalam menyampaikan pesan dan menginterpretasikan teks.

Ada istilah “don’t judge a book by its cover”, bagaimana tanggapan Ndari sebagai ilustrator sampul buku?

Membicarakan buku, tentunya tidak lepas dari posisinya dalam bagian dari komoditas bisnis saat ini. Ribuan judul buku terbit tiap bulannya, dengan berbagai tema dan genre, menunggu untuk dipilih calon pembaca. Sementara manusia sendiri punya attention span yang sangat pendek. Dengan banyaknya produk yang tersedia di depan mata, ia akan memilih apa yang terlihat menarik. Tidak mungkin rasanya jika kita tidak menganggap buku sebagai produk bisnis yang tujuan akhirnya adalah agar laku terjual, terutama karena manusia masih mengandalkan mata untuk memberikan penilaian akan produk yang akan mereka konsumsi. Justru kita harus buat buku semenarik mungkin, agar pembaca tergerak untuk membeli, untuk membaca, untuk mengoleksi, agar penerbit terus hidup, dan tidak berhenti menghasilkan buku. People judge things by the cover all the time, that’s why we exist.

Buku apa yang paling berkesan dan buku apa yang paling sulit untuk didesain sampulnya sejauh ini?

Buku yang paling berkesan adalah Teka-teki Terakhir – Annisa Ihsani dan Contact Light – Madina Malahayati, karena selain buku-buku ini bagus sekali, tapi juga karena desain kami untuk kedua buku ini menang penghargaan di Pinasthika Award tahun lalu.

Sedangkan yang paling sulit didesain adalah buku-buku yang ditulis oleh beberapa penulis favorit saya. Saya merasa punya beban dan tanggung jawab besar untuk memberikan desain yang memuaskan, tak hanya untuk penerbit dan pembacanya nanti tapi juga untuk penulisnya.
man Apa makna pekerjaan ini untuk Ndari?

Saya sangat mencintai buku sejak kecil. Saya selalu punya mimpi untuk terlibat lebih intim dengan buku, tak hanya sebagai pembaca. Saya orang yang percaya bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, hanya saja mereka belum menemukan buku atau tulisan yang cocok untuknya.

Setelah bertemu dengan Genta, saya diajak untuk lebih peka dalam melihat elemen visual dari segala hal, dan kemudian melihat sampul buku dengan rasa hormat yang lebih. Dalam perjalanan kami mendesain sampul, memerhatikan pasar, saya menemukan bahwa kemasan yang apik dari buku juga bisa menjadi salah satu cara untuk menarik lebih banyak orang untuk membaca buku. Desain sampul adalah cara kami menghargai cerita, menyampaikan harapan, pemikiran, rasa cinta dari para penulis dan pihak-pihak yang membantunya merampungkan sebuah buku. Perasaan-perasaan ini yang kami kemas agar buku tersebut menarik mata calon pembaca, untuk akhirnya dibaca sinopsisnya, lalu dibawa pulang untuk setelahnya, panggung kami berikan pada sang penulis. Saya merasa sangat beruntung bisa terjun ke dalam industri ini, untuk membagikan kecintaan saya pada buku dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya.

Apa tantangan dan enaknya menggeluti bidang ini?

Tantangannya, mungkin karena pekerjaan kami yang secara khusus mengilustrasikan dan mendesain sampul buku cukup asing bagi beberapa orang. Industri buku apalagi ranah seni dan desain di Indonesia juga masih jarang sekali disentuh dan dihargai sehingga masih sering dikesampingkan dalam proses terbitnya buku. Banyak yang menganggapnya sesepele memilih font yang menarik perhatian dan ilustrasi yang kekinian. Di sisi lain, kami lihat masih tidak banyak yang bermain di desain sampul buku, sehingga kami punya ruang yang luas untuk mengeksplorasi, untuk menjadi pelopor. Di situ asyiknya. Saya percaya manusia akan selalu membutuhkan buku, meskipun dunia digital dan media sosial sedang menggeliat. Buku dan teknologi berjalan beriringan, dan desain masih diperlukan.

Siapa inspirasi yang mempengaruhi Ndari dalam mendesain selama ini?

Saya sangat terinspirasi dengan Emte, Martin Dima, Chip Kidd, dan Peter Mandelsund. Masing-masing dari mereka punya versatility yang kuat, mereka adaptif dengan kebutuhan naskah lintas genre dengan media yang berbeda-beda, tapi tiap desain tetap kuat dan tidak melenceng dari konten buku. Dari Emte saya belajar bahwa versatility is not a crime. Kemudian dari Martin Dima saya belajar pentingnya eksplorasi gaya visual. Dari Peter Mandelsund saya belajar untuk memahami teks sebaik-baiknya, dan dari Chip Kidd saya belajar bahwa elemen visual sesederhana apapun, jika dikemas baik, bisa punya kekuatan bercerita.

Apa pengalaman paling berkesan sepanjang karier Ndari?

Setiap kali ada pembaca yang mengenali desain karya Sukutangan dan tertarik membaca karenanya, dan tiap kali kami memasuki toko buku dan menemukan buku yang kami desain. It’s the best feeling.

Selain yang Ndari tekuni, apa kesibukan Ndari lainnya?

Jika tidak sedang bekerja pun, kesibukan saya tak jauh-jauh dari buku. Biasanya saya membaca salah satu dari tumpukan buku saya yang tak pernah ada habisnya, atau menulis. Saya suka menulis esai, cerpen, dan puisi.

Apa target jangka pendek dan panjang yang ingin dicapai?

Target jangka pendek saya adalah menulis buku kumpulan puisi dan kumpulan cerpen yang diilustrasikan oleh Genta, membuat pameran tunggal untuk Sukutangan, dan mendesainkan sampul buku untuk penerbit Penguin Books. Sedangkan target jangka panjang saya dan Genta adalah membangun sebuah penerbit, karena kami ingin memberikan ruang untuk penulis, terutama penulis perempuan, yang buku-bukunya terlalu unorthodox untuk diterbitkan penerbit arus utama. Kami ingin menghasilkan buku-buku yang ingin kami baca.

Apakah ada saran dan tips untuk mereka yang ingin terjun ke bidang yang sama seperti Ndari?

Jangan dengar apa kata orang, jangan jadikan latar belakang pendidikan sebagai penghalang, jangan malu sama apapun yang kamu hasilkan sendiri dari tangan dan otakmu. Meskipun bidang pekerjaanmu tidak mudah dipahami orang lain, atau kamu menghadapi tantangan apapun di awal, jangan takut untuk terjun selama pekerjaan itu bisa membahagiakan dan bisa menghidupimu. Jangan menunggu kesempatan, buat kesempatan untukmu sendiri dengan membangun kepercayaan-diri lalu pelajari branding dan marketing supaya kamu bisa menjual apa yang kamu bisa. Tidak usah berputus asa jika punya keterbatasan. Tidak selamanya karier berorientasi pada perusahaan besar, dari ruangan kecil di rumahmu kamu juga bisa membangun karier dan menjadi seseorang yang profesional dibidangnya. Asalkan kamu serius, bertanggung-jawab, disiplin pada waktu, dan tahu dimana kelebihanmu.

Pasti menyenangkan jika bisa bekerja di bidang yang memang kita cintai, bukan? Untuk itu, terus bekali diri dengan keseriusan dan pantang menyerah. Seperti kata Ndari, ciptakan kesempatanmu sendiri. Kamu juga bisa kok, Jobhuners!

Penulis: Cindy Faradhila

Editor: Cynthia Cecilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *