Pasang Loker

Belajar Menjadi Guru Melalui Film “The Teacher’s Diary”

“Aku tidak pernah berpikir akan menjadi guru. Dari awal, sudah penuh dengan kesusahan. Untungnya aku menemukan buku harianmu. Itu telah menjadi panduanku yang sangat menolong. Menolongku untuk mengerti bahwa hidup di sini, kita harus menjadi lebih dari seorang guru. Kita juga harus menjadi seperti orang tua mereka”

Dalam hidup, pernahkah kamu merasa sangat senang melakukan sesuatu, meski banyak orang, termasuk orang penting dalam hidupmu, menganggapnya sepele dan nggak worth it? Kalau pernah, mungkin apa yang kamu rasakan sama seperti apa yang dirasakan Pak Song (Sukrit Wisetkaew) dan Bu Ann (Laila Boonyasak) ketika mereka mengajar di sebuah sekolah houseboat cabang Baan Gaeng Wittaya School yang berada di ujung bendungan Mae Ping, Chiang Mai, Thailand.

Sesuai namanya, sekolah ini berupa rumah kapal yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, bahkan sinyal telepon saja menjadi sesuatu yang sangat berharga. Di tempat inilah Song dan Ann sama-sama mengajar. Namun, mereka mengajar di tahun yang berbeda. Ann mengajar terlebih dahulu di tahun 2011, sedangkan Song ditugaskan setahun setelahnya, untuk menggantikan Ann.

Meski tidak mengajar di waktu yang sama, tetapi Song dan Ann bisa saling mengenal dari buku harian Ann yang tertinggal. Buku harian inilah yang banyak membantu Song dalam menjalani kehidupannya selama mengajar di sekolah ini. Kehidupan yang tidak mudah karena harus menghadapi murid yang hanya lima orang dengan tingkat kelas yang berbeda-beda, sekolah yang sering dihantui hantaman badai setiap musim hujan, dan juga pandangan Nam, pacar Song yang meremehkan pekerjaan Song yang “hanya guru kontrak di sekolah yang jauh dari peradaban”.

Ternyata, tak hanya Song yang merasa senang dengan adanya buku harian Ann. Ann pun, yang kembali mengajar setelah setahun mengajar di sekolah lain di Chiang Mai, merasa apa yang dilakukan Song seperti rela membantu ayah Chon, salah satu murid di sekolah itu, untuk melaut setiap akhir pekan demi kembalinya Chon ke sekolah atau menarik houseboat dengan perahu agar membuat murid-muridnya merasakan sensasi naik kereta, seperti apa yang dituliskan Song di buku harian Ann, sebagai hal-hal yang sangat menakjubkan. Perlahan, mereka saling jatuh cinta, meski tak pernah bertatap muka.

Kisah di atas adalah cerita dari film bergenre komedi romantis, The Teacher’s Diary atau Khid Tueng Withaya, yang pertama kali dirilis pada tahun 2014. Film asal negeri gajah ini diproduksi oleh GTH (GMM Tai Hub), rumah produksi kenamaan asal Thailand, yang juga memproduksi film-film keren lainnya seperti The Billionaire, ATM: Er Rak Error, dan Heart Attack. Meski ada di film, cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di Bann Ko Jatson School (Floating Class Branch) di Li DistrictLamphun Province di utara Thailand. Film ini juga memiliki banyak pesan moral yang bisa diambil, terutama jika Jobhuners ingin menjadi guru.

Bagaimanapun keadaannya, semua orang, berhak mendapatkan pendidikan.

Song dan Ann berada di sebuah kondisi sulit dimana mereka harus mendidik lima orang anak, di tengah berbagai keterbatasan, yang mayoritas berpikir jika sudah dewasa akan menjadi nelayan, sama seperti orang tua mereka. Dihadapkan dengan kondisi seperti ini, mereka tidak menyerah. Mereka terus bekerja keras mengajarkan pentingnya pendidikan kepada Tuna, Thong, Meuk, Gao, dan Chon. Mereka sadar, pendidikan adalah hak semua orang. Terlepas dari bagaimana latar belakangnya. Seperti kata Song kepada Chon, setidaknya, dengan berpendidikan, mereka tidak akan mudah ditipu orang lain.

Tugas seorang guru bukan saja tentang A,B,C dan 1,2,3

Kalimat di atas adalah kalimat yang dikatakan Ann ketika ia ditinggalkan oleh rekan gurunya, Gigi, dan harus mengajar sendirian. Ia mulai menyadari jika tugas seorang guru tidak cukup hanya mengajar. Mereka juga harus mendidik, dan ini dapat dilakukan dengan cara memahami karakter masing-masing anak didiknya dan tidak membuat batasan di antara mereka.

Seorang guru juga harus selalu berusaha berinovasi dalam mengajar agar proses belajar mengajar tidak terasa monoton. Hal ini seperti yang dilakukan Ann saat ia mengajar di sekolah Mon Fah di Chiang Mai. Ia tidak ingin hanya menjadikan muridnya sebagai pendengar “ceramah” yang hanya sekadar tahu, bukan paham. Ia ingin anak didiknya dapat langsung mempraktikan apa yang diajarkan, sehingga mereka bisa lebih memahami esensi dari ilmunya, meski itu berarti ia harus berhadapan dengan guru lain yang tidak setuju dengan metode pengajarannya.

Selain itu, seorang guru juga harus sadar akan perlunya sebuah visi dalam kehidupan dan hal ini harus ditanamkan sejak usia dini. Bagi anak-anak, visi itu biasanya disebut cita-cita. Dan seorang guru sangat berperan dalam pembentukan cita-cita muridnya ini.

Meski film ini membahas tentang pendidikan, tetapi tetap terasa menghibur karena sang sutradara, Nithiwat Tharathorn, mampu menggabungkan unsur komedi, romantis, dan tentu saja, drama, dengan ciamik. Hal ini terlihat dari skornya di IMDb yang mencapai 7,9/10 dan berhasil mewakili Thailand di ajang Academy Awards ke-87 untuk kategori Best Foreign Language Film.

Kalau kamu sedang merasa lelah menjalani kehidupan dan perlu motivasi, rasanya film ini cocok untuk kamu tonton. Dalamnya pesan yang disampaikan dan rasa hangat yang diberikan, nampaknya mampu mengembalikan lagi semangat penontonnya. Semangat terus ya Jobhuners!

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami