Pasang Loker

Bimo Prakoso, Desain Sebagai Passion Hingga Membangun Studio Design Sendiri

Bisa dibilang profesi graphic designer merupakan profesi yang cukup memegang peran penting dalam perusahaan, terutama jika dihubungkan dengan marketing. Siapa yang tidak butuh desain? Kita bisa melihat, desain ada dimana-dimana. Tidak hanya sekedar digunakan sebagai materi promosi bisnis saja, namun desain juga ada di sekeliling kita, tanpa disadari. Lalu jika ada pertanyaan, apakah berkarier di dunia desain itu tidak menjanjikan? Mungkin beberapa tahun silam, banyak orang menganggap pekerjaan seorang graphic designer tidak bisa menghasilkan banyak pemasukan. Namun di era milenial saat ini, profesi yang satu ini justru sangat dicari lho, Jobhuners. Nah, kita simak yuk perjalanan karier seorang Bimo Prakoso. Berawal dari freelance graphic designer, kini ia telah sukses membuat studio design-nya sendiri, Literoom Design, bersama dengan teman-temannya.

Apa pekerjaan Bimo saat ini? Lalu apa itu Literoom Design?

Saat ini aku bekerja sebagai Creative Director di Literoom Design. Pekerjaan yang aku lakukan di sini ialah memastikan bahwa output desain yang keluar dari teman-teman desain sudah sesuai dengan ekspektasi klien, sehingga tidak hanya bagus secara function saja tapi juga mempunyai nilai estetika.

Nah, sekarang aku jelaskan tentang Literoom Design. Jadi, Literoom Design merupakan sebuah design agency. Kami menerima segala pekerjaan yang berhubungan dengan desain, termasuk branding dan juga visualisasinya. Namun tidak hanya itu saja, kami juga memiliki divisi media sosial yang bertugas membuat konten untuk media sosial milik klien yang kami tangani. Kami mengerjakan visual, strategi, caption dan segala macamnya. Literoom Design mulai berdiri pada September 2014, sehingga saat ini usianya tahun ini hampir menginjak 5 tahun.

Sejak kapan Bimo mulai masuk ke dunia desain? Bagaimana awalnya bisa sampai menemukan passion sebagai seorang graphic designer?

Awalnya aku kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual ITS. Sejak saat itu aku selalu berkumpul bersama orang-orang desain, kerjanya ngedesain, dan mulai ikut kerja freelance desain juga. Sampai akhirnya dari situ muncul sebuah passion di bidang ini. Padahal sebelumnya aku masuk ke DKV ITS itu nggak sengaja. Dulu malah nggak ada cita-cita ke desain. Sempat keterima di beberapa universitas, tapi nggak tahu kenapa feeling-nya ada di DKV ITS. Waktu SMA mikirnya juga yang gampang-gampang aja. “Enak ya kuliah cuman gambar aja. Gampang dan santai.”. Tapi memang aku hobi gambar-gambar dari kecil sih.

Desain apa yang pertama kali Bimo buat?

Desain pertama yang aku buat itu untuk pekerjaan pertama freelance-ku saat kuliah, yaitu membuat branding untuk produk sushi di Surabaya tahun 2013.

Apa tantangan terbesar yang Bimo rasakan di awal belajar desain?

Tantangannya dulu sih pressure. Aku baru kenal pressure itu waktu  kuliah, waktu SMA kan bisa santai. Saat kuliah, aku harus mengerjakan project sesuai deadline tapi harus dengan hasil yang memuaskan. Dan desain itu nggak ada patokannya, lebih mengikuti mood. Idenya juga nggak bisa sewaktu-waktu keluar. Kita harus jalan-jalan, keluar dulu, baru tiba-tiba ide bisa muncul.

Apakah sejak menemukan passion di bidang desain ini Bimo langsung ingin menjadikan desain sebagai jalur karier?

Menemukan passion di bidang waktu aku duduk di bangku kuliah. Namun titik poinnya pada saat aku diajak temenku untuk membangun Literoom Design. Katanya, “Kita kan masing-masing punya pengalaman, kita punya pegangan awal meskipun masih baru. Ayo kita bikin sesuatu.”. Ya sudah aku setuju. Akhirnya kami malah serius membuat studio design sendiri, dan malah banyak lika-liku dalam perjalanannya. Lalu aku menyimpulkan kalau pekerjaan ini bisa diseriusin, pekerjaan ini oke dan menjanjikan.

Menurut Bimo, apakah bekerja di bidang desain bisa dijadikan sebagai jalur karier yang menjanjikan?

Kalau kita bisa total dalam pekerjaan, kita mengeluarkan effort tinggi, konsisten, dan fokus, menurutku pasti hasilnya bisa, dan ngga mungkin mengecewakan. Tapi pasti dibalik prosesnya ada jatuh bangun dan lika-likunya. Kalau menurut aku sih, mulai aja dulu membuat sesuatu, nanti kalau misalnya gagal ya sudah kita perbaiki. Dan kita juga nggak akan pernah tahu kalau kita ngga berani buat memulai.

Siapa role model Bimo dalam bidang desain? Dan apa alasannya?

Kalau aku lebih ke agensi-agensi. Kalau panutan untuk sekarang adalah Pentagram. Desain mereka itu bagus, diaplikasikan juga bagus. Kan ada yang desainnya sesuai dengan function, tapi nilai estetikanya hilang. Atau estetikanya bagus tapi function-nya nggak sesuai. Kalau Pentagram itu balance antara estetika dan function-nya.

Apa pesan buat Jobhuners yang suka mendesain tapi masih takut untuk mengejar karier di bidang desain? Kasih tips dan trik juga ya!

Nggak usah ragu, mulai aja dulu. Kalau kalian nggak mulai, kalian nggak akan tahu kalau dunia desain itu bakalan seperti apa. “Make it happen, make it matter”. Buat itu terjadi dulu, baru setelah itu perbaiki kalau ada yang salah. Semua pekerjaan selalu ada risikonya, jadi ngga perlu takut.

Nah, itu tadi cerita tentang perjalanan karier Bimo Prakoso dalam menemukan passion-nya serta membangun karier di bidang desain. Bagaimana, Jobhuners? Kamu juga ingin bekerja sebagai seorang graphic designer? Atau ingin memiliki studio design sendiri seperti Bimo? Dari pada pusing mikirin ini itu, mending mulai dulu aja yuk Jobhuners. Seperti kata Bimo, “Maket It Happen, Make It Matter”.

About Author

Saya adalah seorang mahasiswi semester 5 di sebuah perguruan tinggi STIKOM Surabaya yang sedang mencoba untuk menjajaki karir sebagai Penulis Content dan Penulis Code Program.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun