Filosofi Teras, Ajaran Hidup Masa Kini untuk Pengembangan Diri

Sekali kita menginginkan suatu peristiwa yang berbeda dengan saat ini, pada saat itu kita sebenarnya telah merampok sendiri kesempatan kita untuk menikmati dan mensyukuri saat ini

Jobhuners, zaman sekarang media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita, apakah kamu pernah berharap kalau kamu tidak seperti kamu yang saat ini? Misalnya saat kamu sedang membuka Instagram, kamu berharap kalau kamu memiliki orang tua yang lebih baik dari orang tuamu sekarang, sehingga hidupmu bisa senyaman hidup di Instastory si A. Atau seharusnya kamu masuk sekolah X saja biar bisa sukses seperti di LinkedIn si B. Kamu terus berandai-andai, padahal kamu tahu, semua itu bukan sesuatu yang masih bisa kamu ubah.

Padahal, berandai-andai seperti itu, selain bisa membuang-buang waktumu, juga bisa membuat hidupmu jadi nggak tenang lho. Ujung-ujungnya, kesehatan mentalmu bisa terancam. Terus kalau sudah seperti ini, sekarang mau gimana? Mungkin kamu bisa coba membaca buku Filosofi Teras karya Om Henry Manampiring ini.

Dalam buku ini, Om Piring, sapaan Henry Manampiring, menjelaskan dengan seringan dan jenaka mungkin mengenai Stoisime atau Filosofi Stoa ala filsuf Yunani yang sudah ia gunakan sebagai laku hidupnya. Filosofi Stoa atau yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia disebut Filosofi Teras adalah paham yang bertujuan untuk hidup dengan emosi negatif yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete) – atau bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.

Filosofi Teras tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat eksternal seperti naik jabatan, bisnis lancar, dapat pasangan, dan lain-lain. Hal inilah yang membedakannya dari ajaran self-help lainnya. Kaum Stoa percaya bahwa damai dan tentram itu kokoh karena berakar dari dalam diri kita, bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur, atau direnggut dari kita.

Meski sudah terpaut lebih dari 2.000 tahun, Filosofi Teras ternyata dirasa masih relevan dengan kehidupan kita di masa sekarang. Kok bisa?

Stoisisme ditulis untuk menghadapi masa sulit

Stoisisme memang lahir di masa sulit. Saat itu, di Yunani dan Romawi adalah era penuh peperangan dan krisis. Hal ini rasanya mirip dengan apa yang kita hadapi sekarang. Memang bukan perang menggunakan pedang, tetapi sekarang banyak hoaks, berita bohong, atau fitnah yang beredar di sekitar kita yang sering menyebabkan perpecahan di masyarakat.

Stoisisme dibuat untuk globalisasi

Meskipun lahir jauh sebelum adanya globalisasi, nyatanya karakteristik Stoisime sangat cocok diterapkan di era ini. Ia adalah filsafat Barat pertama yang mengajarkan persaudaraan universal atau universal brotherhood tanpa melihat suku atau agama seseorang. Stoisisme yang mengajarkan bahwa kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan, rasanya sangat cocok diterapkan di era globalisasi, dimana kita tidak hanya berinteraksi dengan orang yang berada di dekat kita saja, melainkan orang dari seluruh belahan dunia.

Stoisisme adalah filsafat kepemimpinan

Kepemimpinan yang dimaksud di sini, tidak hanya pemimpin sebuah kelompok atau organisasi, tetapi juga termasuk memimpin diri sendiri. Stoisisme mengajarkan kita untuk mengutamakan mengendalikan diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan orang lain. Ingat, kita hanya punya dua tangan, tidak mungkin kita bisa menutup ribuan mulut orang lain. Jadi, gunakan saja kedua tangan kita untuk menutup telinga.

Bagaimana Jobhuners, apakah kamu jadi tertarik untuk mempelajari Stoisisme? Kalau iya, tidak ada salahnya untuk mulai membaca buku Filosofi Teras karya Om Piring ini. Buku yang menjadi Book of The Year tahun 2019 dari Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) Award ini, rasanya akan sangat berguna untuk bisa membantu kita tetap “waras” di zaman penuh distraksi seperti sekarang.

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami