Gresia Marthatiana: Gagal Berkali-kali Bukan Halangan

Gresia Marthatiana, MC dan Presenter yang satu ini cukup aktif terlihat pada beberapa program TV di Jawa Timur. Bisa bekerja di berbagai macam stasiun TV tentu membutuhkan proses yang panjang dan nggak mudah lho, Jobhuners. Penasaran dengan perjalanan karier Gresia hingga bisa seperti sekarang ini? Yuk, simak interview Jobhun dengan Gresia Marthatiana!

1. Halo, Gresia, apa kabar? Sedang sibuk apa saat ini?

Baik, jadi aku sekarang menjalankan profesi freelance presenter, jadi nggak cuma satu stasiun TV saja, tapi di beberapa stasiun TV juga. Jadi freelance presenter itu, setiap ada program, kita baru shooting. Selain shooting untuk suatu program, aku juga bekerja sebagai freelance MC, jadi aku nggak ikut satu manajemen saja. Lalu aku juga sering ikut photoshoot untuk produk seperti make up atau wedding. Oh iya, akhir akhir ini aku mulai menekuni bisnis, yaitu bisnis kerajinan kerang. Jadi di bisnis ini aku sebagai fasilitator yang memfasilitasi pengrajin dan pelanggan yang ingin membeli kerajinan.

2. Boleh diceritain nggak, bagaimana perjalanan karir Gresia hingga bisa dikenal sebagai presenter?

Dari SMP aku sudah mulai menjadi MC, biasanya jadi MC di acara-acara sekolah. Memang pada saat itu nggak dibayar, tapi dari situ aku bisa belajar sekaligus menambah relasi. Terus, aku inget banget, waktu itu bulan puasa, aku jadi MC di Gramedia expo, acara semacam sale buku. Nah disitu aku belajar untuk menghadapi audience yang lebih besar lagi, selain itu acaranya kan santai, di situ aku belajar bagaimana caranya agar orang-orang tertarik sama acara tersebut. 

Lalu waktu SMA aku juga mengikuti ekskul presenter. Nah di ekskul ini, sekolahku bekerja sama dengan salah satu sekolah broadcasting di Surabaya. Jadi selain belajar menjadi presenter, aku juga belajar bagaimana caranya menjadi penyiar radio dan MC yang baik. Selain belajar di ekskul, aku juga ikut beberapa lomba presenter. Aku mulai ikut lomba-lomba semacam itu dari 2012 hingga 2015. Nah, dua tahun pertama itu aku nggak pernah menang sama sekali. Kalau dihitung, mungkin aku kalah 10 sampai 20 kali. Aku memang tidak menargetkan diriku buat “Oh aku harus menang, harus dapat piala, harus dapat duit” tapi di lomba lomba itu aku juga belajar. Saat melihat penampilan lawan kan aku sekalian bisa mengkoreksi aku kurangnya dimana. 

Nah, lulus SMA itu aku mulai ikut casting-casting yang diadakan oleh stasiun TV. Info-info casting itu aku dapat dari tempat kursus broadcasting dan juga relasi-relasi yang aku dapat sebelumnya. Selain itu, aku juga mencari sendiri melalui Instagram. Awal memulai karier menjadi presenter, aku pernah ditolak salah satu stasiun TV karena memang pada saat casting, aku masih berusia 17 tahun, sedangkan pesaingku sudah dewasa dan profesional. Memang waktu itu aku ingin mencoba kemampuanku, ternyata memang harus banyak belajar lagi. Aku mikirnya “Oh, aku belum sesuai standar mereka”, jadi aku mulai mendorong diriku untuk bisa menjadi standar mereka. Nah, setelah aku melewati berbagai proses casting itu, teman-temanku yang kerja di media mulai merekomendasikan aku ke produser atau teman kerjanya. Lalu aku coba casting di salah satu stasiun TV, misal casting-nya hari minggu, besok senin aku sudah siaran. Nah kalau sudah di satu media kan akan lebih mudah ke media lainnya. Nah, sejak 2016 itu aku mulai aktif menjadi presenter TV.

Gresia Marthatiana: Gagal Berkali-kali Bukan Halangan

 

3. Mengapa tetap tertarik bekerja di media, walaupun awal karier sempat mengalami kegagalan?

Aku pernah membaca kata-kata dari bapak Ridwan Kamil bahwa “Sebaik-baiknya pekerjaan itu adalah hobi kamu yang dibayar”. Aku mikir, kalau misalkan kerja, tapi kita rasanya seperti main, dan itu dibayar, kan enak. Daripada aku harus bekerja di posisi yang nggak aku suka, meskipun dibayar ya, tapi pasti pressure dan kesehatan mentalnya berbeda dengan ketika aku bekerja sesuai hobiku. Jadi aku mikirnya, jika aku bisa bekerja sesuai passion, ya why not? Meskipun ada beberapa orang yang bilang “Ih ngapain kerja di media, media itu keras, media itu nggak ada duitnya.”. Ya kembali lagi, setiap pekerjaan ada sisi positif dan negatifnya. Meskipun begitu, aku nggak peduli karena aku sukanya di sini. Selama aku senang menjalani pekerjaanku, selama aku masih bisa terus belajar, dalam artian aku nggak stuck di zona nyaman, kenapa harus menyerah? Memang seharusnya kan kalau sudah banyak kalah, harusnya berhenti saja karena memang lomba-lomba dan casting-casting seperti itu selain membutuhkan tenaga, juga membutuhkan biaya yang lumayan. Tapi aku yakin banget dengan pilihanku. Aku mikirnya, kalau memang sudah basah setengah badan, kenapa nggak sekalian nyemplung aja, kan? Sekalian saja totalitas.

3. Apa saja suka duka yang pernah dialami ketika menjalani pekerjaan ini?

Setiap pekerjaan ada suka dan dukanya ya, tapi sejauh ini dari semua pekerjaanku, aku tidak menemui duka yang berarti ya. Dalam artian, setiap ada tantangan baru, misal membawakan program acara baru, kan kita belum terbiasa, pasti ada pikiran-pikiran negatif seperti “Gimana ya kalau aku nggak bisa totalitas”, tapi aku berusaha untuk menyemangati diriku sendiri. Aku berusaha berpikir “Pasti bisa, kan kemarin sudah pernah”. Meskipun pengalamannya nggak sama persis, tapi pasti rumpunnya sama, vibes-nya sama, jadi pasti bisa lah. Jadi jika dibilang suka dukanya, dukanya sedikit, banyak sukanya. Kenapa banyak sukanya, kan kita pasti shooting suatu program nggak harus di studio, bahkan nggak harus di Surabaya. Jadi sembari keliling-keliling jadi presenter program tv, sekalian aku menambah relasi, menambah pengalaman, dan itu semua aku dapat tanpa mengeluarkan biaya.

4. Bagaimana caranya agar semua pekerjaan dapat dijalani bersamaan?

Sebenarnya cukup overwhelmed juga dengan semua pekerjaan ini, tapi mungkin orang-orang nggak tahu hectic-nya seperti apa. Misalnya, ketika aku memandu acara, terus tiba-tiba ada orang yang bertanya tentang produk yang sedang aku promosikan di Instagram. Karena memang aku belum ada admin jadi aku handle semuanya sendiri. Caranya, aku sempatkan waktu di tengah-tengah kepadatan pekerjaanku. Misalnya ketika menjadi MC, kan kita nggak selalu memandu acara, ada saat-saat kita diberi jeda. Nah, saat-saat itu aku manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaanku yang lain, seperti membalas chat dari klien. Memang pada akhirnya aku slow response, tapi Alhamdulillah mereka mengerti semua. Aku belum pernah mendapat klien yang marah-marah karena aku slow response. Tapi memang pekerjaanku ini mengorbankan waktu istirahat ya, misalnya sudah sampai di rumah, harusnya sudah bisa istirahat, ternyata harus sudah prepare untuk event selanjutnya. Jadi waktu-waktu aku bisa istirahat itu sangat berharga.

5. Ada nggak, pengalaman unik selama menjalani karier sebagai presenter?

Ada. Jadi tahun kemarin, aku memang lagi hectic skripsi. Yang namanya skripsi kan, sesantai-santainya kita tetap ada hectic-nya. Jadi ada satu hari di mana aku harus mengerjakan skripsi dari pagi hingga malam. Nah, malam hari itu aku ditelepon oleh pihak radio tempat kerjaku, jadi besok aku harus menjadi MC di suatu acara di Malang. Padahal, besok lusanya aku harus bimbingan dan bertemu dengan dosen. Jadi, jam 6 pagi aku berangkat ke Malang naik kereta sambil membawa laptop. Aku menyempatkan untuk mengerjakan skripsi dalam perjalanan Surabaya-Malang karena memang keesokan harinya aku harus bimbingan. Jadi kerja di media memang seperti itu, apalagi freelance ya, serba tiba-tiba dan kita harus selalu siap.

6. Ada nggak sih, target jangka panjang atau jangka pendek yang ingin dicapai?

Dalam waktu dekat ini, aku ingin mengembangkan bisnisku. Kan bisnisku masih permulaan, aku ingin bisa mengembangkannya lagi. Aku juga ingin menjalani pekerjaan yang sudah aku jalani seperti jadi presenter dan MC sebaik-baiknya. Karena memang aku bukan orang yang bisa diam dan aku gampang bosan, jadi aku selalu berusaha menyibukkan diriku sendiri.

7. Apa sih saran yang Gresia bisa berikan untuk Jobhuners yang ingin menempuh karier yang sama?

Yang pertama, harus kuat mental ya karena bekerja di media itu keras. Sebenarnya bekerja di mana saja ada sisi negatifnya. Kan nggak mungkin kita kerja tapi lempeng-lempeng saja, lancar-lancar saja, tanpa ada hambatan. Kedua, nggak boleh gampang baper ataupun gampang menyerah. Karena menurut pengalamanku, jika produser bilang kalau hasil shooting kita jelek, besoknya bisa nggak dipakai lagi. Jadi, jika diberi kritik dan saran, terima saja, nggak usah terlalu dibawa perasaan atau bahkan jadi pesimis, karena memang ada tantangan tersendiri disitu

Nah, itu tadi cerita karier dari Gresia Marthatiana nih, Jobhuners. Bagi Gresia, pekerjaannya saat ini merupakan hobinya yang dibayar. Meskipun sempat mengalami kegagalan di awal kariernya, tetapi ia nggak mudah menyerah karena memang bekerja di media adalah cita-citanya. Nah, cerita dari Gresia ini sangat bisa untuk dijadikan inspirasi oleh Jobhuners yang tertarik berkarier sebagai presenter, lho.

About Author

Content Writer intern who is highly interested in media, culture, and linguistics studies

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami