Cerita Karier Hasna Khairunnisa, Product Manager di Paper.id

Jobhuners, apakah kamu pernah mendengar profesi Product Manager? Profesi yang satu ini memang sedang banyak dicari oleh perusahaan, terutama perusahaan startup. Wajar saja, menjamurnya produk digital yang dibuat startup membuat profesi yang satu ini banyak diincar. Lalu apa sih sebenarnya Product Manager itu? Apa saja tugasnya? Simak yuk cerita karier dari Hasna Khairunnisa yang saat ini menjabata sebagai Product Manager dari Paper.id, sebuah startup di bidang SaaS (Software as a service) yang menawarkan kemudahan dalam melakukan pengelolaan bisnis.

1. Halo, Hasna! Apa kabar? Boleh cerita tentang apa saja kesibukan Hasna sekarang?

Aku sekarang lagi sibuk bekerja sebagai Product Manager di Paper.id, sambil ikut beberapa komunitas di Jakarta (Women Techmakers, GDG Jakarta, dan Female Geek). Paper.id itu perusahaan yang bergerak di bidang business solution berbasis cloud, produknya berupa digital invoicing, payment, accounting, inventory, dan financing.

2. Soal profesi Hasna sebagai Product Manager, seperti apa job description yang harus dikerjakan?

Wah, kalau ini lengkapnya bisa langsung visit LinkedIn-ku aja hahaha. Tapi kalau disingkat, job desc-nya itu memastikan bahwa produk yang dibuat dapat mencapai business goal perusahaan dengan membuat fitur terbaik sesuai kebutuhan pengguna. Mulai dari perencanaan, pembuatan, dan sampai ke pengguna. Setelah itu dianalisa dan diiterasi lagi perencanaannya, sehingga pada akhirnya produk diterima dengan baik oleh market tujuannya. 

Jadi, sehari-hariku biasanya meeting dengan berbagai ‘stakeholder’ atau pemangku kepentingan di perusahaan, atau semua divisi untuk mendengarkan masukan mengenai produk, meng-educate tentang fitur baru, dan menyamakan tujuan agar produk yang dibuat dapat mencapai tujuan perusahaan dengan kerja sama dari semua divisi. Selain itu, sebagai Product Manager aku juga diharuskan paham mengenai permasalahan yang dialami pengguna, melalui riset atau terjun langsung berkomunikasi dengan pengguna via telepon, meeting, dan lainnya, agar solusi produk yang aku buat dapat tepat sasaran.

Setelah memahami permasalahan, baru aku bisa merencanakan dan memprioritaskan solusi yang kemudian dikaji kembali manfaatnya terhadap tujuan perusahaan. Hasil dari perencanaan berupa konsep dan sketsa tampilan (wireframe) dipresentasikan pada stakeholder terkait. Kalau sudah disetujui bersama, aku akan berkoordinasi dengan tim desain dan tim engineer/programmer untuk menyamakan persepsi dan membuat rencana tersebut menjadi kenyataan. 

Apabila produk sudah selesai dibuat, perjuangan belum berarti sudah selesai. Aku harus berkoordinasi lagi dengan tim data untuk mengevaluasi penggunaan produk, kemudian berkomunikasi dengan pelanggan melalui kinerja divisi lain dalam perusahaan. Apabila hasil dari produk yang dibuat masih belum selesai, semua proses di atas akan diulang sampai menemukan titik dimana produk diterima dengan baik oleh pelanggan yang dituju dan mencapai tujuan perusahaan. Pastinya dalam menjalankan itu semua aku nggak sendiri, ada Product Associate yang menemani aku dalam setiap prosesnya.

3. Cerita dong, bagaimana perjalanan karier Hasna sampai akhirnya terjun di profesi ini? Apa memang sejalan dengan pendidikan atau cita-cita?

Oh, aku dulu waktu masa-masa kuliah awal sampai mau selesai, nggak pernah dengar tuh ada profesi namanya Product Manager. Karena kuliah IT, taunya ya cuma jadi programmer/designer aja. Pas mau lulus, salah satu mentorku di kampus ada yang keterima di salah satu startup e-commerce di Jakarta sebagai Associate Product Manager. Wah, dari situ aku kepo banget, terus cari-cari tau tentang Product Management dan ternyata sesuai banget sama karakter dan keahlianku. Jadi semenjak lulus, aku udah aktif melamar kerja sebagai Associate Product Manager/Product Associate (Langkah awal jadi PM) sehingga akhirnya diterima di Paper.id sebagai Growth Associate, lalu 3 bulan kemudian menjadi Product Manager.

Disamping itu, aku punya mimpi untuk bisa membuat startup/produk yang bisa bermanfaat buat agama, negara, dan bangsa, hehe. Tapi skill technical/ngoding aja nggak cukup dong. Mangkanya salah satu alasanku mau jadi PM waktu itu supaya bisa sambil belajar skill-skill lain yang dibutuhkan untuk membuat startup/produk, misalnya komunikasi, bisnis, dan manajemen. Secara bahasa lainnya PM itu kan mini-CEO, jadi pasti akan dipaksa belajar skill-skill diatas tadi.

4. Bagaimana tantangan dan keseruan bekerja sebagai Product Manager?

Tantangannya banyak sekali. Tapi karena aku typical orang yang senang hal-hal nggak diduga, jadi semua berasa seru banget walaupun pasti kadang ada burnout-nya.  Salah satu tantangannya adalah aku harus bisa dengan cepat ‘context switching’, atau pindah dari satu hal ke hal lainnya dalam frekuensi yang banyak sekali, bahkan dalam waktu satu hari bisa belasan kali. Ibaratnya ‘dicolek’ sana sini dari tim engineer, desain, marketing, executives, dan lain-lain, untuk ngomongin hal yang semuanya berbeda-beda. 

Selain itu, aku harus bisa ‘wear everyone’s hats’ maksudnya harus bisa mewakili pendapat divisi lain ketika menjelaskan suatu hal ke stakeholder lainnya. Jadi jembatan ketika engineer ada masukan mengenai desain atau menanyakan tentang desain, jadi jembatan untuk jelasin kemauan pengguna, business goal, dan lain sebagainya.

Tantangan untuk manage waktu untuk mengerjakan tugas-tugas pribadi dengan padatnya meeting-meeting yang ada tiap harinya, sambil juga harus manage produk, manage tim, juga salah satu super power yang harus aku kuasai. Berkat semua itu, aku bisa dekat dengan hampir semua divisi dan memahami berbagai perspektif yang ada. Selain itu, aku belajar banyak sekali hal selama 10 bulan terakhir, dan serunya masih banyak sekali hal-hal penting dan seru yang harus aku pelajari.

5. Apa modal utama yang harus dimiliki untuk berkarier sebagai Product Manager? Apa ada kriteria khusus dari segi pendidikan atau kriteria lainnya?

Good news: PM is for everyone! Yay~ 

Beneran? Iyaaaa.

Kalau melihat dari timku, ada yang dari jurusan teknik geologi, fisika, informatika, juga non teknik seperti bisnis, manajemen, ekonomi, dan akuntansi. Karena jadi tim produk itu butuh kemampuan yang sangat diverse dan pengetahuan tentang product domain yang spesifik, dalam satu tim biasanya terdapat orang dengan expertise berbeda-beda agar dapat mengisi satu sama lain. Asalkan tetap selalu mau belajar hal baru secara otodidak adalah kuncinya. Kalau ngomongin key skills yang dibutuhkan, antara lain strategic thinking, UX design & research, data analysis, communication, management, strong business acumen, basic technical skills, problem solving, initiativeness, dan domain expertise.

6. Kalau soal kultur di tempat Hasna bekerja, seperti apa sih bekerja di lingkungan startup? 

Oh, asyik banget sih bisa datang siang hahaha. Kalau dari startup yang pernah aku kerja di sana, aku senang karena suasana dan kultur kerja yang sibuk tapi tetap fun, teman dan atasan yang selalu meng-inspire aku untuk terus belajar. Tapi most of all, aku bahagia karena aku merasa didengar. Birokrasinya mudah, masukan-masukan juga sampai ke telinga stakeholder dengan cepat. Senang rasanya kalau bisa merasa jadi andil dalam membuat suatu ‘perubahan’ yang baik 🙂

7. Menurut Hasna, bagaimana prospek karier di lingkungan startup buat para milenial?

Prospek karier di lingkungan startup pada umumnya untuk semua orang, menurut aku ada bagian yang cukup fair dimana kemampuan lebih diutamakan dibandingkan dengan pendidikan ataupun pengalaman. Whether you’re a dropouts, cuma belajar dari online course, nggak punya pengalaman solid, but if you pass the test, then you’re PASSED. Selain itu, rasanya tenang nggak ada sikut-sikutan dan cuma cukup bersaing dengan diri sendiri.

8. Apakah ada saran dan tips untuk Jobhuners yang ingin terjun di bidang yang sama seperti Hasna?

Aku ada artikel andalan waktu dulu baru cari-cari tau tentang PM : https://medium.com/hackernoon/how-to-get-into-product-management-78c58bd9c8cf 

Selain itu, kalau kamu sudah sampai pada tahap penerimaan di suatu company/startup, here’s some actionable tips:

  • Kerjain test case dengan sungguh-sungguh, dengan segala kemampuan dan kreativitas.
  • Perhatikan skill-skill dasar yang disebutkan di jobdesc, pastikan kamu bisa menunjukkan skill kamu di bidang yang kamu kuasai. Misalnya bisnis dan teknologi.
  • Cari tahu domain dari perusahaan yang kamu apply. Kompetitornya siapa, apa aja yang dikerjakan perusahaan tersebut, kalau bisa prediksikan juga bakal ke arah mana perusahaan tersebut. 
  • Asah product sense (Menurut kamu produk ini gimana? Bagusnya ada fitur apa? Dan kenapa harus ada fitur tersebut?
  • Kamu bisa menunjukkan (Bahkan di CV) kalau kamu itu orang yang aktif, kompetitif, dan selalu mau belajar. 
  • Be energetic pas jawab interview, lalu belajar STAR (Cara jawab pertanyaan interview).
  • Research produknya! Primary usage, target user, competitive advantages, review, lalu coba pakai produknya.
  • Walaupun nggak tahu, belajar! SDLC, Scrum, UI UX Research Methods, funnels, analytics, retention, cohort, wireframe, dll.
  • Learn to stratgyze things based on business cases

Pastinya, jangan berhenti untuk kepo dan berjuang! Kalau kamu merasa PM is right for you, then find a way to go to it! This job is sure is rewarding at times, dan skill yang kamu pelajari insya Allah akan bermanfaat for a lifetime 🙂

Nah, itu tadi sekilas cerita karier Hasna menjadi seorang Product Manager. Banyak juga komponen yang harus dipelajari ya. Tapi kalau sudah berhasil menciptakan produk untuk customer, pasti rasanya senang banget. Bagaimana menurutmu, Jobhuners? Apakah kamu tertarik menjadi seorang Product Manager?

About Author

Nabila Aulia Putri
Public Relations & Creative Content Specialist

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami