Pasang Loker

High Fidelity, Genre Mainstream dengan Alur Anti-mainstream

Film yang berhubungan tentang romansa yang dibalut komedi memang sudah mainstream. Meski begitu, nampaknya para movie geek tidak pernah bosan dengan sajian genre tersebut. Kenapa ya? Mungkin, ini karena genre tersebut memang dirasa cukup mampu menjangkau penonton dari segi kedekatan emosi dan kejadian sehari-hari. Selain itu,  genre komedi romantis juga seringkali menawarkan kisah super sederhana namun mengenanya setengah mati.

High Fidelity. Sebuah film rilisan tahun 2000 yang menawarkan genre komedi romantis arahan sutradara Stephen Frears. Diadaptasi dari sebuah novel british terbitan tahun 1995 dengan judul sama, karangan Nick Hornby. Film ini menyajikan sebuah komedi romantis yang menggigit ala Rob Gordon (John Cusack), pemilik toko semi gagal yang menjual musik dengan media vinyl alias piringan hitam. Rob mempekerjakan dua karyawan,  si pemalu Dick (Todd Louiso) dan si ekstra percaya diri Barry (Jack Black). Keduanya sangat handal bagai ensiklopedia karena memiliki pengetahuan luas tentang musik utamanya pop culture. Rob memiliki kegagalan bertubi-tubi dalam hal percintaan dan bertambah parah ketika dirinya putus dengan pacar terakhirnya, Laura (Iben Hjejle). Rob yang hobi membuat top 5 list dalam kesehariannya kemudian menyangkut pautkan segalanya dengan Laura demi menemukan sesuatu yang salah namun masih tak ia mengerti. Proses menemukan segala hal dalam dilemanya tersebut mau tak mau menyeret Rob ke dalam kedewasaan yang sangat berarti.

Walaupun ada perbedaan latar tempat, yang asalnya di London pada buku dan menjadi Chicago di film, tidak mengurangi kesan menarik yang memang sudah melekat pada alur cerita.  Penonton akan dibuat ikut mellow saat mengikuti dilema hati Rob yang sedang mengalami titik terendah dalam dunia percintaannya. Tentang kecintaan Rob pada musik, yang walaupun tidak sebesar kedua karyawannya yang bagai ensiklopedi.  Juga tentang kelucuan dan keanehan duo karyawan Rob, Dick dan Barry yang sama-sama jenius musik namun memiliki kepribadian bertolak belakang.  Film ini juga kembali mengingatkan kita akan masa kejayaan piringan hitam yang memiliki ciri khas dan tempat tersendiri di hati kolektor setianya.  Alur sederhana namun mengena yang bisa membuat penonton senyum lega seusai menonton.  Tampaknya hal ini juga diakui oleh kritikus Rotten Tomatoes yang memberi rating 91% sebagai bentuk apresiasi cerita yang bisa dibilang cukup cerdas dalam penggambaran kehidupan sehari-hari.

Merasa komedi romantis adalah genre yang kamu banget? High Fidelity mungkin sangat tepat untuk jadi next must watch dalam daftarmu.

 

“What came first, the music or the misery? People worry about kids playing with guns, or watching violent videos, that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands, literally thousands of songs about heartbreak, rejection, pain, misery and loss. Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?” -Rob Gordon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun