Pasang Loker

Joy: Sosok Matriarch Teladan yang Pantang Menyerah

What happened to us? What happened to all the things that we used to dream about for our lives? I just feel like it’s getting further and further away

Jobhuners, pernahkah kamu memiliki mimpi yang seakan mustahil untuk diwujudkan? Rasanya, seakan-akan keadaan dan lingkunganmu tidak memungkinkan untuk mengejar mimpi itu. Bahkan, orang-orang yang kamu sayangi juga tidak mendukungmu. Kalau iya, percayalah kamu tidak sendirian. Banyak orang juga pernah berada di posisimu. Salah satunya adalah Joy Mangano, seorang matriarch/ibu pemimpin keluarga yang sekarang menjadi presiden dari Ingenious Designs LLC juga pernah merasakannya. Namun, apa membuat Joy berbeda dari orang-orang lain yang pernah berada di posisi ini adalah bagaimana ia menyikapinya. Kita bisa melihat bagaimana kisah Joy ini dalam film dengan judul yang sama dengan namanya.

Film besutan David O. Russell yang dirilis pada tahun 2015 ini memperlihatkan bagaimana Joy (diperankan oleh Jennifer Lawrence) sejak kecil sebenarnya sudah kaya akan mimpi dan cita-cita. Namun hidupnya berubah saat Ayah dan Ibunya, Rudy dan Terry Mangano (diperankan oleh Robert De Niro dan Virginia Madsen), memutuskan untuk bercerai. Ada banyak hal baru yang dihadapi Joy dan membuat ia harus menunda mimpinya selama 17 tahun. Dengan waktu selama itu, mungkin kita sebagai penonton atau bahkan mungkin Joy sendiri, berpikir bahwa ini bukan hanya menunda, tetapi mengubur. Namun, ketika Joy sudah berada di sebuah titik dimana ia tidak mampu lagi menahan segala kesulitan yang harus ia hadapi sebagai matriarch-yang-memikul-beban-lebih-dari-apa-yang-seharusnya-ia-pikul, ia mulai merenungkan lagi kehidupannya. Ia mulai memikirkan kembali tentang mimpi-mimpinya yang sempat tertunda dan berusaha mewujudkannya.

Joy memulainya dengan membuat sebuah alat pel revolusioner yang bisa memeras secara otomatis bernama Miracle Mop. Meski Namanya miracle, tetapi sebenarnya jalan Joy untuk mewujudkan mimpinya juga tidak seajaib itu. Di awal, Joy banyak dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan seperti mencari investor, memilih penyuplai, penasihat bisnis, hingga pemasaran produk yang sulit. Ini tentu tidak mengherankan, melihat Joy memang belum memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya. Joy banyak dihadapkan dengan sinisme, masalah keuangan dan bahkan pengkhianatan demi pegkhianatan. Namun pada akhirnya, setelah perjuangan penuh keringat, air mata, dan darah −dalam arti sesungguhnya− serta bantuan dari orang-orang terdekatnya, Joy mampu mewujudkannya.

Joy Mangano yang kita kenal sekarang merupakan salah seorang pengusaha paling sukses di Amerika sebagai pendiri dan presiden Ingenious Design LLC. Ia memiliki lebih dari 100 paten dan merek dagang untuk temuan-temuannya. Pada tahun 2010, penemuannya menghasilkan sekitar $150 juta dalam penjualan tahunan melalui saluran televisi HSN. Siapa yang menyangka kalau ia dulu bahkan pernah harus meminjam hipotek kedua atas rumahnya?

Meskipun ada beberapa bagian yang diubah oleh penulis naskahnya, David O. Russell dan Annie Mumolo, sehingga membuat film bergenre drama ini lebih cocok disebut half-fiction daripada biopic, tetapi secara keseluruhan pesan-pesan membangun dari film ini masih dapat tersampaikan dengan baik.

Dari kisah Joy di film ini, kita bisa belajar banyak hal tentang mimpi dan kerja keras ya Jobhuners. Mungkin kita pernah berada di fase terendah dimana keadaan di sekeliling membuat kita mempertanyakan lagi tentang mimpi-mimpi kita. Namun, kalau bukan kita yang percaya pada impian kita, lalu siapa lagi yang kita harapkan untuk percaya dan mau mewujudkannya?

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *