Pasang Loker

Meneladani Cara Katharine Gun Menghadapi Dilema Etis dalam “Official Secrets”

I know, I’m not sorry that I try to stop him. I’m not. I’m only sorry that I failed.

Pernahkah kamu mengalami dilema etis saat bekerja, Jobhuners? Nampaknya, tidak ada orang yang tidak pernah mengalami dilema etis di tempat kerja ya. Mulai dari konflik kepentingan, kejujuran & integritas, loyalitas VS kebenaran, sampai level whistleblowing. Isu dilema etis level whistleblowing ini pulalah yang diangkat Gavin Hood, sutradara sekaligus penulis skenario film Official Secrets.

Film yang dirilis pada tahun 2019 ini diadaptasi dari buku The Spy Who Tried to Stop a War: Katharine Gun and the Secret Plot to Sanction the Iraq Invasion karya Marcia dan Thomas Mitchell. Buku dan film ini sama-sama menceritakan kisah nyata kehidupan Katharine Teresa Gun (diperankan oleh Keira Knightley), seorang penerjemah sinyal intelijen di GCHQ (Government Communications Headquarters), Inggris.

Suatu hari menjelang Perang Irak di tahun 2003, dua tahun setelah Gun bekerja di GCHQ, Gun menerima e-mail memo dari NSA (National Security Agency). Memo ini berisi arahan yang mengejutkan, Amerika Serikat meminta bantuan Inggris untuk mengumpulkan informasi mengenai anggota Dewan Keamanan PBB atau UNSC (United Nations Security Council) untuk memeras mereka agar memilih mendukung invasi ke Irak.

Gun, yang memiliki budi pekerti yang baik, tidak tahan melihat hal ini. Ia merasa tidak dapat berdiam diri saja dan menyaksikan rasa sakit dan penderitaan yang akan ditanggung oleh lebih dari 30 juta penduduk Irak. Ia kemudian memutuskan untuk memberikan salinan memo itu ke salah seorang kenalannya yang bisa membantu menginvestigasi hal ini. Meski ia tahu, dengan menentang pemerintahan, ia telah membahayakan masa depannya dan keluarganya.

Ini adalah dilema etis yang dialami Gun. Ia melihat adanya praktik pelanggaran etika, illegal, dan amoral di dalam pemerintahan dan ia memilih untuk menjadi seorang whistleblower dengan mengungkap hal ini kepada media, dengan berbagai risiko yang ada. Ini tentu bukan hal yang mudah. Gun, yang selalu bangga bekerja di GCHQ karena pekerjaannya mengumpulkan informasi yang bisa membantu mencegah teror serangan, tiba-tiba harus diminta mengumpulkan intelijen untuk membantu pengaturan pemungutan suara di PBB, dan menipu dunia agar berperang. Tentu hal ini membuatnya keberatan karena berlawanan dengan nilai-nilai yang ia miliki. Sehingga, meski ia tahu konsekuensinya, ia tetap memilih untuk melakukan hal tersebut. Bahkan ketika ia tahu UK-US tetap melakukan invasi ke Irak, ia tetap tidak merasa menyesal. Ia tidak menyesal telah berusaha menghentikan Blair, Perdana Menteri Inggris, dan Bush, Presiden Amerika Serikat. Ia hanya menyesal, ia telah gagal melakukannya.

Konsekuensi yang harus ia hadapi karena telah menentang pemerintah dengan melanggar Undang-undang Rahasia Resmi tahun 1989, ternyata lebih berat dari apa yang bisa kita bayangkan. Ia ditempatkan pada keadaan yang sangat tidak nyaman selama satu tahun. Ia tidak bisa bekerja atau makan dan tidur dengan tenang. Tak hanya dirasakan sendiri, suaminya juga bahkan hampir dideportasi karena Gun yang tertuduh mengkhianati negara. Namun, semua kesulitan itu rasanya terbayar lunas saat ia mendengar Hakim mengatakan bahwa ia bebas untuk pergi. Ia mendapatkan haknya. Terlepas dari semua kepentingan politik yang ada dalam kasusnya, Gun memang tidak pernah memiliki niatan buruk sejak awal. Ia hanya ingin melakukan apa yang menurutnya benar. Meski, ia juga tahu, jika ia terlalu naif.

Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu berada di posisi Gun, Jobhuners? Apakah kamu akan melakukan hal yang sama? Apapun itu, tentu semua keputusannya ada di tanganmu. Orang lain tidak berhak menilai, karena ia tidak tahu persis keadaanmu. Hanya kamulah yang paling tahu keadaanmu. Satu hal yang paling penting dan harus diingat adalah, selalu berusalah untuk mengikuti kata hatimu. Dengan begitu, kamu tidak akan menyesali apapun yang harus kamu hadapi di masa depan.

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami