Pasang Loker

Mengenal Depresi Pra Pensiun yang Sering Dialami Pekerja

Masa pensiun sering dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang selalu ingin dilakukan, tetapi tidak pernah memiliki waktu untuk merealisasikannya, biasanya karena adanya tanggung jawab pekerjaan. Banyak yang memiliki mimpi besar seperti tinggal di daerah pedesaan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar, membuka usaha sendiri, hingga keliling dunia dengan uang pensiun mereka. Meskipun terdengar seperti sebuah kebebasan, tetapi bagi sebagian orang, masa-masa mendekati pensiun tidak semenyenangkan itu. Bayangan akan hilangnya rutinitas dan lingkungan sosial yang selama ini dimiliki, dapat memunculkan fase emptiness atau kehampaan bagi para pensiunan. Pada fase ini seseorang merasa sangat kesepian. Jika tidak dapat ditangani dengan baik, setelah mengalami fase ini, seseorang dapat mengalami depresi.

Dikutip dari Halodoc, depresi adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari. Depresi yang terjadi pada masa mendekati pensiun ini, disebut depresi pra pensiun. Penyebabnya antara lain karakteristik masing-masing individu, lingkungan sosial, dan pandangan masing-masing orang terhadap masa pensiun. Biasanya ini berasal dari sejumlah kekhawatiran seperti khawatir menjadi tidak berguna, ditinggalkan karena tidak mampu mencari nafkah lagi, dan perubahan dinamika kehidupan.

Gejala depresi pra pensiun ini antara lain sedih/cemas berlarut, putus asa/merasa rendah diri, mudah marah dan gelisah, kehilangan gairah, mudah lelah, bergerak dan berbicara dengan lebih lambat, sulit berkonsentrasi, mengingat, dan membuat keputusan serta sulit atau kebanyakan tidur. Depresi yang menguras perasaan dan pikiran ini tentu dapat menggangu berlangsungnya aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, atau bekerja.

Ada sejumlah pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terkena depresi ini. Pertama, mengatur pola kerja yang seimbang atau work-life balance dan melakukan perencanaan finansial dan kegiatan untuk masa pensiun sejak usia produktif. Sebenarnya, 52% gen-Z ternyata sudah memikirkan pensiun sejak dini bahkan di hari pertama bekerja. Sehingga, kemungkinan untuk terkena depresi pra pensiun dapat berkurang. Selain itu, orang yang akan memasuki masa pensiun diharapkan agar tidak menutup diri dari dunia luar. Dengan menutup diri dari dunia luar, kemungkinan untuk depresi ini terjadi dan semakin parah, cukup besar. Karena orang tersebut akan sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri yang belum tentu benar. Di sisi lain, keluarga dan orang terdekat memang diharapakan memberikan dukungan lebih untuk membantu mereka menyesuaikan dengan perubahan yang akan terjadi.

Seorang psikiater di Brigham and Women’s Hospital, Randall Paulsen, juga menyarankan untuk sesekali terlibat dalam kegiatan sosial. Misalnya dengan menjadi relawan akan membantu orang yang akan pensiun, untuk bisa memperoleh keseimbangan hidup dan menambah nilai diri.

Satu hal yang harus kita ingat, depresi bukanlah permasalahan yang remeh. Seperti penyakit lain, mencegah depresi lebih baik daripada mengobati. Jadi segera rencanakan masa pensiunmu sedini mungkin ya Jobhuners agar terhindar dari depresi pra pensiun.

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun