Pasang Loker

Mengenal Profesi Penulis Skenario dalam Sebuah Film

Jobhuners, adakah diantara kalian yang menjadikan menonton film sebagai hobi? Kalau iya, apa yang biasanya membuatmu menyukai suatu film? Pemain, visual yang menarik, atau jalan ceritanya? Memang orang yang bertanggung jawab untuk mengharmonisasikan semua unsur itu adalah sutradara, seperti yang pernah dibahas di Jobhun beberapa waktu yang lalu. Namun, tiap unsur memiliki penanggungjawabnya masing-masing.

Pemain adalah tanggung jawab dari Telko atau Talent Coordinator, visual yang menarik adalah bagian dari jobdesc DoP atau Director of Photography dan jalan cerita adalah ranah tugas dari penulis skenario atau scriptwriter. Kali ini, Jobhun akan membahas lebih detail tentang profesi yang terakhir disebutkan, yaitu penulis skenario. Apakah kamu tertarik untuk menggeluti profesi ini? Kira-kira apa saja hal yang harus diperhatikan seseorang yang ingin terjun menjadi penulis skenario? Berikut Jobhun sudah merangkumnya untukmu!

Profesi penulis skenario atau scriptwriter adalah salah satu profesi di industri kreatif. Ia bertugas untuk menulis penokohan, jalan cerita, monolog atau dialog, dan deskripsi visual yang dituangkan dalam bentuk skenario. Dalam menulis skenario, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penulis, yang paling utama adalah alur, konflik, dan karakteristik tokoh. Selain itu, penulis juga harus bisa menulis menggunakan bahasa gambar. Bahasa ini berbeda dengan bahasa tulisan yang biasanya digunakan dalam novel atau cerpen. Bahasa yang digunakan seorang penulis skenario seolah-seolah adalah refleksi dari kamera. Ia harus bisa menjelaskan gambaran adegan dalam bentuk narasi, bukan deskripsi. Bahasa ini juga harus mudah dipahami karena naskah ini akan menjadi panduan bagi seluruh pemain dan kru film. Jadi sebagai penulis skenario, ia harus membantu mereka memahami tulisan dengan mudah.

Penulis skenario juga harus memperhatikan logika berpikir. Logika berpikir yang dimaksud disini adalah kesesuaian dalam cerita. Misalnya jika ia menulis skenario yang bergenre nonfantasi, tentu tidak mungkin tokoh di cerita ini memiliki kemampuan untuk menjadi tidak terlihat. Logika berpikir juga digunakan dalam menggambarkan karakter dalam cerita. Misalnya ketika menggambarkan tokoh yang hidupnya berkekurangan, tentu tidak mungkin jika ia tinggal di rumah yang bagus dan memiliki kolam renang, kan? Hal ini juga berhubungan dengan unsur kontinuitas atau kesinambungan antara satu adegan dengan adegan selanjutnya. Misalnya jika dalam satu adegan, tokoh utama mendapatkan luka di tangan kiri setelah berkelahi dengan tokoh antagonis, maka di adegan selanjutnya luka itu tidak boleh berpindah ke tangan kanan. Kadang, hal kecil seperti ini sering terabaikan, padahal bagi sebagian penonton, hal ini bisa cukup menggangu.

Selain itu, penulis skenario juga harus memperhatikan budget yang diperlukan untuk memvisualisasikan tulisannya. Mengapa ia harus memperhatikan hal ini dan tidak bisa menulis cerita sesuai keinginannya seperti penulis novel dan cerpen? Jawabannya adalah karena skenario harus diwujudkan dalam bentuk yang bisa diindera manusia, berbeda dengan penulis novel dan cerpen yang mengandalkan imajinasi pembacanya. Jika penulis menulis adegan yang memerlukan budget yang besar, tanpa benar-benar diperlukan, tentu saja hal ini akan menyulitkan seluruh tim produksi. Misalnya, jika penulis ingin menggambarkan kalau tokoh antagonis suka merusak barang, ia tidak harus membuat tokoh itu merusak benda-benda mahal seperti mobil sport atau guci antik. Ia bisa menggantinya dengan menjatuhkan barang-barang di meja makan atau rak buku. Jika memang tidak benar-benar diperlukan, penulis harus bisa mencari cara lain untuk menyampaikan maksudnya, kecuali produksinya memang memiliki budget yang besar.

Di samping faktor penulisan skenario, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika kalian ingin terjun menjadi penulis skenario. Pertama, perbanyaklah berteman dengan penulis skenario. Hal ini dapat dilakukan dengan masuk ke komunitas penulis atau berkunjung ke stasiun tv atau lokasi shooting. Dengan begitu, kamu bisa memperluas relasi dan juga pengetahuan tentang penulisan skenario, Kedua, kamu juga tidak boleh antipati terhadap satu program TV atau genre film tertentu. Mungkin, kadang memang ada program TV atau genre film yang tidak sesuai selera atau pemikiranmu, tetapi dengan tetap menontonnya, kamu bisa belajar untuk melihat dari sudut pandang yang lain dan juga tidak melakukan hal yang tidak kamu sukai, dari program atau genre film itu. Terakhir, kamu harus ingat kalau dalam proses produksi program TV atau film, skenario adalah hal yang sangat penting. Tanpa skenario, pemain dan kru, bagian apapun itu, pasti pekerjaannya akan terhambat.

Bagaimana Jobhuners pandanganmu terhadap profesi penulis skenario setelah membaca uraian di atas? Semoga kamu bisa memahami lebih baik lagi ya profesi ini. Untuk kamu yang ingin menjadi penulis skenario, semoga kamu bisa menjadi penulis yang kreatif, membuat cerita yang menarik dan membuat penonton seperti masuk ke dalam ceritamu ya. Karena industri kreatif di Indonesia masih memerlukan banyak sosok seperti itu. Semangat!

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun