Pasang Loker

Mengenal Toxic Worker: Kolega yang Sering Buat Keder

Jobhuners, kamu pasti pernah mendengar istilah toxic relationship atau toxic friendship kan? Ternyata selain itu ada juga yang namanya toxic worker atau toxic employee, lho! Jadi setelah sebelumya kita pernah membahas tentang lingkungan kerja yang toxic, sekarang kita akan membahas mengenai rekan kerja yang toxic. Sebenarnya seperti apa sih rekan kerja yang toxic itu? Apa benar dia yang toxic, bukan kita sendiri? Mungkin pertanyaan seperti itu pernah menghampirimu ya. Nah, supaya kamu tidak bertanya-tanya lagi, berikut Jobhun sudah merangkum serba-serbi mengenai toxic worker. Check this out!

Ciri-ciri

  • Angkuh
  • Terlalu percaya diri
  • Terlalu sering mengeluh
  • Terlalu sering menggosipkan rekan kerja yang lain
  • Suka mengalihkan pekerjaannya ke orang lain
  • Tidak peduli akan kenyamanan rekan kerja yang lain
  • Menganggap dirinya mematuhi peraturan kantor dan selalu berkelit saat ia melanggar
  • Produktif, tetapi kualitas pekerjaannya tidak memenuhi standar atau suka menunda/menghindari pekerjaan yang diberikan

Nah, jika kamu ternyata memang punya rekan kerja yang sifatnya toxic seperti di atas kira-kira apa ya yang harus dilakukan? Pertama, kamu bisa coba menggali lebih dalam apa penyebab dari masalah yang dihadapi rekan kerjamu itu dengan cara mendekatkan diri kepada mereka. Jika kamu tahu apa alasan ia bertingkah laku seperti itu, mungkin kamu bisa lebih menerima sikapnya dan tidak menganggap hal itu sebagai gangguan. Dengan begitu, perlakuannya tidak akan berdampak negatif kepada kinerjamu. Jika kamu sudah menemukan alasannya, kamu bisa mencoba membantunya menyelesaikan masalah atau jika ia memiliki masalah psikologis, kamu bisa mengajaknya berkonsultasi ke ahlinya yaitu psikolog atau psikiater. Namun, kalau ternyata kamu tidak bisa menemukan hal tersebut, kamu bisa mencoba mengatakan padanya dampak negatif yang mungkin terjadi jika ia terus-menerus melakukan hal-hal yang biasa ia lakukan. Bisa jadi selama ini ia memang tidak menyadari hal-hal tersebut karena terlalu fokus pada dirinya sendiri.

Selain itu, kalau kamu merupakan atasan dari si toxic worker, kamu bisa melakukan sejumlah tindakan terhadap perilakunya seperti memintanya menjelaskan alasan atas perilakunya yang negatif dan meminta ia untuk berubah atau memisahkan kursinya dari kursi karyawan lain. Hal ini perlu dilakukan agar perilakunya tidak memberikan dampak negatif yang tidak diinginkan karena kalau tidak ditangani dengan benar, toxic worker bisa menurunkan produktivitas dari karyawan lainnya.

Di sisi lain, bagaimana jika kamu justru merasa bahwa kamulah si toxic worker? Tenang, menyadari bahwa kamu bersalah sudah merupakan langkah awal yang baik untuk memperbaiki diri kok. Kamu bisa memulai dengan melakukan introspeksi diri terlebih dahulu. Pikirkanlah apa saja perbuatanmu yang sekiranya pernah merugikan orang lain. Kamu bisa melakukannya dengan cara berusaha menempatkan diri di posisi rekan kerjamu. Dengan begitu kamu sudah belajar bagaimana caranya untuk berempati. Ketika kamu sudah menyadari apa saja kesalahan-kesalahan yang mungkin kamu lakukan di masa lalu, jangan takut untuk meminta maaf atas kelakuanmu yang menyebalkan itu dan berusahalah sebaik mungkin untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan.

Kalau kalian bagaimana, Jobhuners? Apakah kalian pernah menemui fenomena toxic worker ini di tempat kerja? Kalau iya, tetap semangat ya. Berusahalah sebaik mungkin untuk terus dapat memberikan performa terbaikmu, karena percayalah jika kamu terus berusaha memancarkan aura positif, lama kelamaan lingkungan di sekitarmu juga pasti akan turut merasakannya.

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

1 Comment

  1. Cara mengatasi mengatasi seseorang dengan sifat toxic ada 2 cara, yaitu dengan Sikap positif dan sikap asertif. Sikap positif untuk menghadapi toxic people adalah dengan memandang orang tersebut sebagai ujian yang membuat diri tertempa. Sehingga, dengan berinteraksi bersama orang tersebut dapat membuat diri individu menjadi lebih baik. Kemudian, apabila seseorang tidak bisa mengambil sikap positif sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Maka, dapat dengan mengambil sikap asertif. Sikap asertif ditunjukkan dengan mengungkapkan pendapat dan perasaan kita pada orang tersebut namun tidak membuat orang itu tersinggung. Bersikap terbuka dan memakai kalimat yang bagus untuk mengungkapkannya. Sumber : http://news.unair.ac.id/2019/12/06/dua-cara-menghadapi-toxic-people/

Tinggalkan Balasan ke Ahmad Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami