Pasang Loker

“Merasakan” Midlife Crisis Bersama Brad Sloan dalam Brad’s Status

Sometimes, I worry that people think of me as a failure

Pernahkah kalian mendengar kalimat-kalimat motivasi seperti “everyone has their own pace” atau “don’t compare yourself with anyone in this world”? Biasanya kalimat-kalimat itu disampaikan untuk menyemangati orang lain −atau diri sendiri− yang tengah berada dalam quarter life crisis atau krisis usia seperempat abad. Mereka yang tengah mengalami krisis ini biasanya berusia sekitar 20 sampai 25 tahun dan merasa khawatir atau bahkan frustasi dengan hidupnya yang “begini-begini saja”. Namun, ternyata krisis ini tidak hanya dialami oleh mereka yang berusia 20 tahunan saja lho. Setelah melewati fase ini, masih ada lagi tantangan lain yang disebut midlife crisis. Memang tidak semua orang mengalami krisis-krisis seperti ini dalam hidupnya. Terkadang ada orang yang hanya mengalami salah satu, keduanya, atau bahkan tidak sama sekali. Banyak hal yang bisa mendorong atau meminimalisir terjadinya hal ini. Namun setidaknya kita bisa “merasakan” bagaimana menjadi seseorang yang tengah berada dalam midlife crisis melalui sosok Brad Sloan dalam film Brad’s Status (2017).

Brad yang diperankan dengan apik oleh Ben Stiller ini sebenarnya adalah sosok yang dapat dikategorikan cukup sukses. Pada usia 47 tahun, Brad memiliki NPO (Nonprofit Organization)-nya sendiri dan tinggal di rumah yang nyaman di Sacramento, California, bersama istri dan anak laki-lakinya. Namun, entah apa yang mendorong hal ini terjadi, Brad mulai membandingkan pencapaiannya dengan sahabat-sahabatnya di masa kuliah. Menurutnya, hidup mereka terlihat lebih sukses dengan gelimang materi yang dimiliki. Di saat temannya, Jason, telah memiliki jet pribadinya sendiri, Brad masih berkutat dengan perjalan pesawat di kelas ekonomi yang dibeli dari website diskon. Atau temannya yang lain, Billy, yang sudah pensiun sejak usia 40 tahun dan bisa hidup bahagia dengan pacar-pacarnya di Maui, sementara ia, masih harus bekerja, mencari uang untuk menguliahkan anaknya, Troy (Austin Abrams), dan hidup bersama istrinya yang tidak begitu ambisius, Melanie (Jenna Fischer).

Dalam film ini, kita diajak untuk terus melihat dan mendengarkan Brad yang tenggelam dalam pikirannya sendiri di perjalanan menemani Troy melakukan tur kampus. Ben yang juga pernah menyutradarai Reality Bites, sebuah film yang membahas tentang quarter life crisis, berhasil membuat kita membayangkan seperti apa rasanya berada dalam midlife crisis. Kadang, beberapa pemikirannya seperti bisa mengena langsung ke hatimu dan membuatmu berpikir kalau kamu tidak merasa inferior sendirian, tetapi kemudian kita diajak melihat kenyataan bahwa sebenarnya hidup Brad −atau hidup kita− tidak semalang yang kita pikirkan. Selama kita bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup, ternyata masih ada banyak hal yang bisa kita syukuri kok, yang mungkin, tidak bisa dilihat dengan mata.

Film yang disutradarai dan ditulis oleh Mike White ini, sebenarnya dikateogrikan sebagai film komedi, drama, dan musik oleh IMDb. Namun, menurut penulis, film ini membawa topik yang agak terlalu berat untuk dikategorikan sebagai film komedi. Film ini lebih cocok ditonton ketika kalian tengah merasa inferior dan perlu semangat daripada mencari humor yang bisa membuat tertawa dan sejenak melupakan kehidupan. Karena meskipun di film ini sang tokoh utama mengalami midlife crisis, tetapi kita tidak harus menjadi orang berusia paruh baya dan memiliki keluarga dulu kok agar bisa relate dengan permasalahannya. Apapun istilahnya, entah itu quarter atau midlife crisis, sebenarnya hampir sama, hanya kapan mengalaminya yang membuat berbeda. Karena untuk merasa inferior itu sebenarnya tidak pernah melihat berapa umurmu, berapa gajimu, atau apa pencapaian dalam hidupmu. Selama kita masih hidup, pemikiran seperti ini bisa datang kapan saja, tetapi kita dapat mengurangi dampak negatifnya dengan terus berusaha mensyukuri apa yang kita punya.

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun