Profesi Food Stylist Bagi Deta Unggul, Lebih Dari Sekadar Memotret Makanan

Profesi Food Stylist Bagi Deta Unggul, Lebih Dari Sekadar Memotret Makanan

Apakah kamu pernah mendengar istilah food stylist? Profesi ini menjadi salah satu profesi baru yang ada di era teknologi saat ini, lho. Terkadang dipandang sebelah mata, padahal membutuhkan skill yang nggak kalah rumitnya dengan profesi-profesi lainnya. Banyak hal yang belum banyak dipahami oleh masyarakat bahwa seorang food stylist harus memiliki kemampuan memvisualisasikan ide, tidak hanya menata makanan kemudian memotretnya. Supaya lebih memahami profesi ini, kita bisa mengambil beberapa insight menarik dari Dera Unggul yang saat ini bekerja di ISMAYA GROUP sebagai Inhouse Food Stylist.

1. Bagaimana kesibukannya selama working from home?

Selama PSBB aku di rumah aja, kalau kerja kadang ada produk makanan yang dikirim, lalu styling dan difoto sendiri, kebetulan aku juga ada basic fotografi, jadi cukup memudahkan. Tapi kalau memang ada project di luar, aku pastikan di studio nggak banyak orang demi menerapkan social distancing.

2. Cerita dong tentang profesi food stylist? Bagaimana pekerjaan yang dilakukan?

Menurut aku food stylist adalah kerjaan yang setengahnya kuliner, dan setengahnya lagi visual art. Kurang lebih kerjaannya bantu klien memvisualisasikan ide mereka terkait bidang kuliner.

3. Biasanya food stylist bekerja di mana? Atau dengan siapakah seorang food stylist bekerjasama?

Aku mengerjakan food styling untuk foto menu atau media sosial restoran, sehingga biasanya bekerja langsung di outlet, dengan bekerjasama dengan fotografer, videografer, dan staf dapur. Kalau yang commercial, misalnya saat mengerjakan proyek iklan cetak atau iklan tv, kerja di studio bersama production house dan agensi iklan.

4. Apa yang membuat Deta tertarik untuk menjadi seorang food stylist? Bagaimana ceritanya hingga bisa terjun ke profesi ini?

Awalnya aku sekolah di jurusan seni dan desain, di sana aku belajar fotografi dan beberapa seni visual lainnya. Lalu aku bekerja di sebuah majalah lifestyle untuk menulis review kuliner. Dari situ aku mencoba styling makanan yang akan difoto. Sejak aku post beberapa hasil styling-an di media sosial, akhirnya pekerjaan atau proyek berdatangan sebagai freelance, sampai aku bekerja di Ismaya Group sebagai Inhouse Food Stylist.

5. Dari pengalaman Deta, bagaimana suka duka bekerja sebagai food stylist?

Sukanya, aku bisa mempraktekkan apa yang aku pelajari saat sesi pemotretan. Banyak bertemu orang-orang dengan skill unik, jadi aku bisa tukar ilmu. Dukanya, profesi ini belum banyak orang tau, kadang suka digampangin.

6. Bagaimana cara Deta mengatasi rasa jenuh atau kebuntuan saat bekerja?

Kalau merasa jenuh, aku justru akan mencari kegiatan yang jauh dari food styling, seperti main PS (Play Station), dengerin musik, atau menonton film komedi. Begitu jenuh dengan PS dan film-film komedi, lalu balik lagi ke food styling. Kalau untuk mencari inspirasi, biasanya aku ngobrol sama temen-temen, mencoba melihat props dan groceries di supermarket atau pasar. Setelah itu biasanya aku akan mendapatkan inspirasi, terutama inspirasi untuk karyaku dalam pekerjaan/

7. Apa arti karier menurut Deta? Apa pesan untuk Jobhuners yang masih galau tentang karier yang ingin mereka tekuni?

Buat aku karier sifatnya long term commitment. Untuk yang masih galau dan suka pindah-pindah profesi, kamu bisa menonton dokumenter “Jiro Dreams of Sushi”, siapa tau bisa menginspirasi untuk tekun dalam bekerja.

Wah, ternyata banyak detail yang harus diperhatikan ya saat menjalani profesi ini. Mulai sekarang, jangan meremehkan profesi yang satu ini ya, Jobhuners. Atau mungkin sekarang kamu merasa tertarik menjadi seorang food stylish? 

About Author

Building my startups, Jobhun. Also managing DILo Surabaya coworking space. I also leading my communities, Facebook Developer Circles Surabaya and Tech In Asia City Chapter Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami