Soft Skills, Makin Penting di Era AI

Memasuki era industri 4.0, kita akan menyaksikan AI (Artificial Intelligence) diaplikasikan ke berbagai hal, termasuk ke dalam aspek bisnis. AI akan perlahan-lahan menggantikan tugas-tugas yang semula dikerjakan oleh pekerja manusia. Seperti contoh, jika biasanya dibutuhkan pekerja manusia untuk merekrut, menyaring, dan mewawancarai kandidat pekerja, kini HR (Human Resource) nggak perlu susah payah melakukannya karena tugas-tugas tersebut bisa diambil alih oleh AI. Penggunaan AI tersebut, selain efisien, juga dapat mengurangi biaya perjalanan perusahaan. Maka dari itu banyak perusahaan kini berlomba-lomba untuk mengimplementasikan AI pada hampir semua aspek bisnis. 

Namun, jika dilihat dari 2020 Workplace Learning Trends Report yang dilansir platform pembelajaran online Udemy, sebagian besar perusahaan belum siap menyambut datangnya era AI. Hanya 26% responden yang menyatakan organisasinya siap menghadapi dampak dari masuknya AI di setiap aspek bisnis mereka. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini, Udemy mengamati bahwa terdapat peningkatan permintaan pada bidang keahlian yang berhubungan dengan AI dan data science. Yang menarik dari laporan ini, disebutkan bahwa ketika AI menjadi mainstream, manusia akan menyadari potensinya sebagai manusia. 

Di era yang yang segala hal bisa diotomatisasi oleh AI, pekerja manusia mulai berfokus pada tugas-tugas yang membutuhkan keunggulan unik manusia, seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan kemampuan story telling. Shelley Osborne, Vice President of Learning, Udemy mengatakan bahwa orang-orang mulai menyadari jika soft skills tidak bisa digantikan oleh teknologi. Ketika teknologi sudah sedemikian berkembang hingga bisa memprogram dirinya sendiri, dalam beberapa kasus, hanya bisnis dan pekerjaan yang fokus pada interaksi manusia yang bertahan. 

Pentingnya soft skill di era serba teknologi seperti saat ini dikonfirmasi oleh Google melalui Project Oxygen 2013. Dalam proyek tersebut, Google mengumpulkan data dari setiap rekrutmen, pemecatan, dan promosi yang dilakukan oleh Google sejak awal berdirinya perusahaan tersebut yaitu tahun 1998. Proyek tersebut berujung pada penemuan delapan kualitas paling penting untuk karyawan Google. Dari delapan kualitas tersebut, tujuh teratas karakteristik yang perlu dimiliki agar sukses berkarier di Google tergolong sebagai soft skill. Ketujuh soft skill tersebut adalah menjadi pemimpin yang baik, berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik, memiliki wawasan tentang orang lain (termasuk nilai dan sudut pandang orang lain yang berbeda), memiliki empati, memiliki sikap mendukung rekan kerja, menjadi critical thinker, menjadi problem solver, dan mampu membuat hubungan di antara gagasan-gagasan kompleks. 

Tak ketinggalan, McKinsey juga merilis laporan yang terkait dengan bidang pekerjaan. McKinsey menganalisis tentang pekerjaan-pekerjaan yang rentan terhadap automasi dan menemukan bahwa pekerjaan yang memanfaatkan soft skill adalah pekerjaan paling aman dari automasi. Misalnya, pekerjaan yang melibatkan pengelolaan (managing) dan pengembangan (developing) potensinya untuk dioutomasi hanya 9%

Nah dari laporan-laporan di atas, perlu disadari bahwa meskipun AI telah mengambil alih beberapa peran manusia, soft skill tetaplah relevan dan tidak bisa digantikan oleh teknologi. Untuk itu, sangat penting untuk mempelajari soft skill agar bisa survive dalam dunia kerja. Dalam 2020 Workplace Learning Trends Report, Udemy juga melampirkan 10 soft skills yang paling cepat bertumbuh di tahun 2020. Berikut adalah daftarnya:

  1. Growth Mindset: Kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan
  2. Creativity: Mengembangkan gagasan-gagasan baru dan menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada
  3. Focus Mastery: Memanfaatkan konsentrasi untuk membuat keputusan-keputusan jangka pendek dan panjang dengan lebih baik
  4. Innovation: Membuat perbaikan pada gagasan, konsep, proses, atau metode yang sudah ada untuk mencapai hasil yang diinginkan.
  5. Communication skills: Menafsirkan informasi melalui berbicara, mendengar, dan mengamati.
  6. Storytelling: Mengorganisasikan pikiran dan data menjadi naratif dan komprehensif dan holistik
  7. Culture awareness: Kemampuan untuk berinteraksi, bekerja, dan mengembangkan hubungan bermakna secara efektif dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan organisasi.
  8. Critical thinking: Analisis dan evaluasi obyektif dalam rangka membuat penilaian terhadap sebuah topik
  9. Leadership: Memberikan bimbingan dalam organisasi
  10. Emotional intelligence: Mempraktekkan kontrol ekspresi dan observasi hubungan interpersonal antara orang-orang di tempat kerja

About Author

Content Writer intern who is highly interested in media, culture, and linguistics studies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami