Pasang Loker

Stephanie Claussie Dibbetz: Belajar dan Berkarya sebagai Arsitek

Bagi Stephanie Claussie Dibbetz -atau yang biasa disapa Claussie- menjadi Arsitek ternyata lebih dari sekadar profesi. Menurut Claussie, bidang Arsitek & Interior Desainer, telah memberikan kesempatan baginya yang menyukai keindahan untuk belajar dan berkarya. Merancang sesuatu yang indah, fungsional, dan bermanfaat untuk orang lain. Jobhuners ingin tahu bagaimana sepak terjang Claussie sebagai seorang Arsitek? Berikut hasil wawancara Jobhun dengan Claussie.

Apa pekerjaan Claussie saat ini?

a Co-founder dan Desainer (Arsitek & Interior Desainer) di Studio Kauma.

Kapan Claussie mulai bekerja di bidang ini?

Sekitar awal tahun 2013, sejak lulus S1, saya langsung bekerja di salah satu konsultan di Jakarta. Awalnya ya jadi Junior Architect dulu. Beruntung bisa belajar banyak dan dipercaya pegang project sendiri, jadi Project Architect.

Apa yang membuat Claussie tertarik untuk menekuni bidang ini?

Pada dasarnya saya suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan mengelola tampilan visual sih. Dengan keindahan. Bidang Arsitek & Interior Desainer ini membuka kesempatan belajar dan berkarya untuk saya.  Merancang sesuatu yang indah, fungsional, dan bermanfaat untuk orang lain. Selain itu, saya bisa sambil belajar sosial, budaya, sejarah, filosofi, teknologi, dan alam. Karena memang kaitannya dengan bidang keilmuan luas sekali. Seru aja.

Sebelum terjun di bidang ini, apa pekerjaan Claussie terdahulu?

Untuk yang belum tahu, Arsitek itu profesi. Jadi sama seperti Dokter/Apoteker, untuk bisa bekerja di bidang ini perlu latar belakang pendidikan yang sesuai. Nggak bisa kan kuliah hukum lalu bekerja menjadi Apoteker? Ya kurang lebih seperti itu. Jadi sebelum terjun ke bidang ini ya harus belajar ilmu Arsitektur dan magang.

Menurut Claussie, apa sih modal utama untuk menjalani pekerjaan ini?

Banyak hal sih, tapi salah satu hal utama yang harus dimiliki untuk menjadi Arsitek adalah kepekaan terhadap ruang. Untuk bisa bikin nasi goreng harus paham nasi goreng itu apa, mungkin harus mencoba banyak referensi untuk bikin yang enak. Untuk Arsitek, merancang bangunan dengan ruang yang berfungsi dengan baik, harus paham apa itu ruang yang baik, bagaimana ruang itu dapat menunjang fungsi tertentu. Hal ini harus diasah sih, jadi Arsitek harus sering jalan-jalan supaya banyak merasakan atau mengalami berbagai macam ruang. Untuk modal yang lain apalagi ketika baru memulai, menurut saya harus terus belajar sehingga, keputusan desain yang dibuat semakin hari semakin mendekati ‘benar’.

Sebagai Arsitek, apa saja yang Claussie kerjakan?

Dari konsep sampai gambar desain dan biasanya sampai site visit saat pembangunan. Misalnya mau desain kantor Jobhun. Yang pertama saya lakukan adalah ke lokasi, mengamati dan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan desain, seperti kebutuhan ruangnya apa saja, company-nya seperti apa, karyawannya ada berapa, sistem dan jam kerjanya bagaimana, suasana yang mau dibangun seperti apa, homy, atau formal, bangunannya lokasinya di mana dan yang pasti budget-nya berapa. Brainstorm dan pengenalan mendalam terhadap client penting sih. Apalagi kalau proyek rumah pribadi, harus tahu tuh kebiasaan dan preferensi anggota keluarga yang akan menempati rumah. Lalu setelah dapat gambaran maunya seperti apa, biasanya saya membuat mood board dulu, supaya sebelum deal, client dapat gambaran awal, tentang desain dan finishing material yang akan kami propose sesuai dengan budget client. Setelah cocok, saya membuat konsep dan proposal desain, membantu client dengan budgeting, pemilihan kontraktor, lalu sampai ke site visit rutin alias mengecek apakah semua sudah sesuai dengan rancangan.

Selain aktif bekerja sebagai Arsitek, apa kesibukan Claussie lainnya?

Sekarang saya study lanjut (S2) jurusan Desain Arsitektur.

Bagaimana cara Claussie memanajemen waktu antara bekerja dan kuliah?

Waktu bkerja di konsultan Arsitektur dulu sih nggak bisa sambil kuliah, karena apply kerja kan setelah lulus, sudah sebagai profesional, full-time di konsultan. Masuk sekitar jam 9, pulang memang bisa jam 7 atau jam 8 malam, pernah sesekali nginep waktu ada deadline. Waktu masuk S2 saya udah freelance, dan sama partner sekarang, start Studio Kauma, jadi udah lebih fleksibel waktunya.

Apa Claussie pernah mengalami momen stuck saat bekerja? Kalau iya, bagaimana cara Claussie mengatasinya?

Stuck sih jarang karena prosesnya sudah ada alur/tahapannya. Lebih ke stress sih mungkin problemnya. Dulu waktu masih bekerja di kantor di Jakarta, saya pernah handle project Hotel Four Points Sheraton Makassar, dan juga 2 project resto di 2 hotel lainnya di Makassar (dan untuk project ini saya waktu itu tinggal di Makassar 1,5 tahun, sampai proyeknya selesai). Stress-nya karena menghadapi permasalahan sendirian, dan pressure di lapangan setiap hari, terutama karena saya masih muda. Waktu handle itu usia saya baru 23 tahun, dan harus handle kontraktor, supplier, dan  orang-orang yang lebih senior. Tapi saat itu, belajar banyak soal problem solving, improvisasi dan ambil keputusan.

Cara mengatasinya kadang saya ambil waktu sih, untuk istirahat yang cukup, ambil waktu sendiri dulu untuk berpikir di pagi hari, dan baru ke lapangan untuk menghadapi permasalahan-permasalahannya lagi, satu persatu. Jadi pertimbangannya lebih matang dalam mengambil keputusan.

Apa suka duka bekerja di bidang ini?

Sukanya tentu kalo proyek terbangun dan client suka dan saya juga puas dengan transformasi dari konsep desain ke skala bangunan aslinya, juga berfungsi dengan baik dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

Dukanya masalah waktu sih. Setahu saya ya, memang nggak ada pekerjaan di biro Arsitek yang jam kerjanya 9-5 seperti pekerjaan di kantor pada umumnya, hehehe. Jadi harus pintar ngatur waktu biar kehidupan sosial juga sehat, make time buat orang-orang terdekat.

Apa tanggapan Claussie mengenai dunia teknik, khususnya dalam hal ini, arsitektur yang “katanya” lebih didominasi oleh laki-laki?

Kalau dominasi laki-laki itu mungkin karena banyak faktor ya. Tapi yang pasti, yang saya tau, kalau dari kesempatan bekerja seperti kerja di biro Arsitek sih nggak ada mensyaratkan harus laki-laki kok. Dari segi kapasitas juga rasanya nggak ada hubungannya dengan gender, dan teman-teman perempuan saya juga banyak sih yang masih bekerja di bidang ini.

Dalam menjalankan bidang ini, apa Claussie punya role model tersendiri?

Ada beberapa, diantaranya Pak Eko Prawoto dan Pak Yori Antar. Kalau Pak Eko Prawaoto kebetulan dosen saya waktu belajar Arsitektur. Dari beliau saya belajar banyak, bukan hanya pemahaman tentang arsitektur tapi bagaimana mengambil sikap sebagai Arsitek yang baik.

Apakah hal yang paling berkesan selama Claussie menekuni karier?

Waktu itu pernah handle proyek, Interior & Facade Hotel, dengan total luasan area yang desain 10.000m2 lebih. Sendirian! Waktu itu tugasnya koordinasi di site. Roller coaster banget rasanya. Kalo diingat sekarang seru, karena sudah terlewati. Tapi waktu dijalani, stress-meter udah mentok ke kanan. Hahaha.

Apa target jangka pendek dan panjang yang ingin Claussie capai dalam karier?

Target jangka pendek sih pengen menyelesaikan studi dan lebih fokus sama partner & team di Studio Kauma dulu. Memperbanyak portfolio. Target jangka panjang pengen punya kesempatan mengerjakan proyek dengan kasus yang unik atau di lokasi yang unik. Misalnya diminta adaptive reuse bekas pabrik/gudang tua bekas era kolonial.

Apakah ada saran dan tips untuk mereka yang mungkin ingin terjun ke bidang yang sama seperti Claussie?

Riset. Pertama, mengenal diri sendiri dulu, minatnya dimana. Karena lulusan teknik arsitektur itu masih sangat luas, jadi bisa difokuskan apakah setelah lulus berminat sebagai akademisi, konsultan, manajemen konstruksi, kontraktor, developer, urban desain, dan lain-lain. Misalnya ada yang merasa sangat tertarik merancang dengan material kayu, berarti minatnya di tektonika dan materialitas, jadi selanjutnya bisa diasah dan diperdalam di situ.

Kedua, riset terlebih dahulu mengenai lingkungan kerjanya nanti, kelebihan dan kekurangannya. Misalnya nanti ingin membuka biro sendiri, kelebihannya memang lebih bebas berekspresi dan menentukan desain sendiri, tapi perlu dipahami bahwa itu artinya harus mandiri, mencari proyek sendiri, mengatur team, dan memikirkan cashflow sendiri.

Wah ternyata menyenangkan sekali ya Jobhuners ketika kita menganggap sebuah profesi lebih dari sekadar pekerjaan, tapi sebagai medium untuk bisa belajar dan berkarya seperti Claussie. Setelah membaca cerita Claussie di atas, apakah ada dari kalian yang ingin belajar dan berkarya seperti Claussie? Tetap semangat ya Jobhuners, percayalah akan selalu ada jalan untuk niat baik kalian!

About Author

Highly interested in communication, media, and political studies

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun