Pasang Loker

Tanda-tanda Ini Menunjukkan Kamu Harus Segera Resign

Jobhuners, kamu pernah nggak sih merasa sudah tidak mau berjuang pada hal yang tak memberimu kebahagiaan? Eits, ini nggak melulu soal cinta pada pasangan ya. Di dunia kerja pun kamu pasti akan menemui hal serupa. Awalnya kamu merasa semangat dan jatuh cinta pada pekerjaan maupun kantor barumu. Kamu merasa beruntung karena kamu menemukan jodoh pekerjaan yang tepat karena bukan hanya cocok dengan kualifikasi, tetapi pada budaya kerja dan orang-orang di dalamnya yang punya positive vibes. Goals banget deh!

Sayangnya, memasuki tahun ke 2 atau 3 kamu sudah merasa tidak semangat. Meski ada kemungkinan kamu memasuki fase “bosan” dalam bekerja, tapi kamu merasa ada ‘pendukung’ lain yang membuatmu semakin tidak betah. Mulai ada pikiran untuk resign karena toh kamu juga sudah berkarya beberapa tahun. Sebenarnya tidak salah kalau mau resign, tapi akan lebih baik kalau kamu sudah pikir matang-matang alasannya. Apalagi kalau kamu sudah merasakan tanda-tanda ini.

Untitled-1

Tidak ada hal baru untuk dipelajari = tidak ada kesempatan berkembang

Di awal kerja, rasanya kamu menemukan dunia baru yang membuatmu semangat untuk mempelajari hal-hal baru. Setahun atau dua tahun setelah bekerja, kamu merasa sudah menguasai pekerjaan tersebut. Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu pun kamu tidak merasa ada perubahan yang menantangmu untuk belajar. Bisa jadi kamu mulai mengalami stagnansi. Yep. Tidak maju, tidak mundur. Diam di tempat.

Kalau sudah begini, rasanya masa depan kerjamu suram sekali. Hal baru untuk dipelajari saja susah kamu temui, bagaimana kamu mau upgrade diri sendiri? Klise sih, tapi kalau kamu tidak ‘memaksa’ dirimu untuk menemukan hal baru dan belajar darinya, ujung-ujungnya hidupmu ya di situ-situ saja.

Lingkungan kerja mulai nggak sehat

Kamu merasa atasanmu nggak memberikanmu kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan dan rasa percaya kalau kamu bisa bertanggungjawab dengan tugasmu. Di lain hal kamu juga merasa kalau bosmu sebenarnya malah sering bergantung padamu – meskipun awalnya terasa asyik, namun lama-kelamaan kamu merasa beban kerjamu setara dengan bos tapi pendapatanmu tetap pada level dibawahnya. Atau kamu sering sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengutarakan pendapat bahkan sampai pendapatmu jarang didengarkan oleh atasan. Belum lagi, masalah teman sekantor yang makin hari makin lebih sering main dan bergosip ketimbang produktif bekerja. Pernah menemukan aturan kantor yang tidak adil dan lebih memihak teman kantor karena dia lebih senior atau malah lebih junior dalam bekerja darimu? Hal yang seperti ini namanya racun. Mau orang bilang kalau hal itu lumrah terjadi di mana-mana, faktanya bertahan di kantor seperti itu takkan akan membuatmu menjadi pekerja yang profesional.

Sedikit-sedikit mikir “Kapan pulang?”

Tingkat kenyamananmu pada suatu hal adalah ketika kamu bisa melakukannya sampai lupa waktu. Orang yang sudah jatuh cinta pada satu hal rela untuk fokus pada hal tersebut dengan segala upayanya, sampai lupa makan, kadang sampai tak memperhatikan diri sendiri. Tapi hal itu tak berlaku bagimu di urusan pekerjaan. Boro-boro lupa waktu, bangun pagi untuk mulai menjalani aktivitas kerja saja rasanya sudah malas sekali. Kantor terasa seperti neraka. Menuju jam makan siang saja pikiranmu sudah “Kapan pulang?” sembari melamunkan hal-hal yang ingin kamu lakukan sepulang kerja. Jiwamu sudah bukan di tempat kerjamu. Hati nuranimu ingin kamu segera pergi dari tempat itu. Kalau sudah begini, kamu bisa menarik kesimpulan kalau kamu bosan dengan pekerjaanmu, dengan kantormu, dan dengan hal-hal pendukungnya.

Overexhausted padahal beban kerjanya sama saja

Tekanan kerja di kantor dan tekanan dari dalam diri sendiri untuk tidak berkarya lewat pekerjaanmu ini sangat berpengaruh pada kesehatanmu lho, Jobhuners. Kamu mungkin tidak merasakannya, atau malah denial, bahwa dengan rutinitas kerja yang biasa kamu malah merasakan kelelahan yang luar biasa – baik kesehatan fisik maupun mental.

Sadar atau tidak, kamu jadi sering punya kebiasaan yang justru merusak dirimu sendiri. Kamu mulai mencari pelarian: menggigit kuku ketika gugup atau bosan, mulai minum minuman beralkohol, meningkatkan intensitas merokok, makan hanya yang kamu suka, bahkan tidur berlebihan.

Yang jadi aneh adalah ketika kamu merasakan hal ini padahal kamu sendiri tidak punya tambahan beban pekerjaan. Logikanya kamu tentu tidak lagi kesulitan mengerjakan tugasmu kan? Tapi kenapa justru lebih lelah dibandingkan awal masuk kerja? Hal seperti ini bisa jadi karena kamu kurang piknik atau kamu memang sudah harus mencari kantor baru.

Tidak ada peningkatan kesejahteraan

Di awal bekerja, kamu merasa masih layak untuk mendapat gaji standar meski terkadang weekend-mu tergadaikan. Lumrah, saat itu kamu masih harus banyak belajar tentang pekerjaan maupun budaya organisasinya. Kamu melakukannya dengan sukarela karena kamu ingin benar-benar segera menguasai hal itu.

Dua tahun bekerja, kamu mau mengajukan peningkatan gaji. Pertimbangannya tentu banyak dong. Syukur kalau permintaanmu diluluskan karena kamu memang dinilai berkompeten dan sudah berkontribusi banyak bagi perusahaan. Tapi, bagaimana kalau pembahasanmu tentang naik gaji saja bahkan tidak digubris? Ditambah lagi selama ini bahkan perusahaan tidak mau memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawannya.

Say goodbye kalau kamu merasa kantor ini sudah tidak bisa memberimu feedback yang layak. Tak perlu berpikir kalau kamu terlalu muluk-muluk minta naik gaji meski “baru” 2 tahun bekerja. Semua orang layak dapat apresiasi kok. Toh, biaya hidup pun semakin hari semakin naik. Masa iya perusahaan tidak mau peduli dengan karyawannya yang notabene roda penggerak bisnis mereka?

Kalau mau dijabarkan alasan-alasan yang lain, sebenarnya masih sangat banyak, Jobhuners. Berbicara realita, masalah seperti keahlian yang tidak dianggap atau tentang prinsip yang berbeda antara pribadi dengan organisasi, itu jadi alasan banyak orang akhirnya hengkang dari zona nyaman di pekerjaan mereka.

Kamu merasa beberapa hal di atas tadi kamu alami dalam bekerja? Bisa jadi kamu memang harus resign dan cari tempat bekerja yang lebih baik. Tak perlu takut untuk kesulitan dapat pekerjaan lain. Selama kamu resign dengan dasar yang jelas, kamu sudah mempunyai pengalaman kerja, dan kamu adalah tipe orang yang tidak takut untuk long-life learning, sebenarnya masih sangat banyak perusahaan lain yang lebih baik membutuhkanmu. Jangan berpikir kalau kamu pribadi yang bermasalah hanya karena kamu mengajukan resign. Percayalah, yang menjalani keputusan seperti itu tidak hanya kamu, kok. Tetap semangat!

Penulis: Dhalia Ndaru Herlusiatri Rahayu

Editor: Cynthia Cecilia

About Author

Building my startups, Jobhun. Also managing DILo Surabaya coworking space. I also leading my communities, Facebook Developer Circles Surabaya and Tech In Asia City Chapter Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami