Pasang Loker

The Billionaire: Proses Gagal Bangkit yang Berbuah Manis

“Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi. Jika kita menyerah, maka habislah sudah”

Sudah berapa kali kegagalan menghampirimu, Jobhuners? Gagal adalah suatu bagian dari sebuah proses. Terkadang kita berhasil, tapi di waktu lainnya mungkin kita akan gagal. Perasaan sedih, kecewa, dan marah kerap terjadi saat suatu kegagalan datang kepada suatu proses yang kita usahakan. Seringkali kita merasa bingung bagaimana cara bangkit pasca kegagalan menghampiri. Mungkin karakter bernama Top dalam film “The Billionaire” akan bisa menggambarkan secara akurat bagaimana rasanya gagal, sekaligus menghadapi kegagalan itu sendiri. Film yang juga dikenal dengan judul “Top Secret: Wai Roon Pan Lan” ini bercerita tentang kisah nyata pemilik snack rumput laut Taokaenoi, Itthipat Kulapongvanich, yang berhasil menjual camilan miliknya  di 3000 cabang 7eleven di umur yang masih belia, yakni 19 tahun.

Sinopsis singkat

Kisah dibuka dengan Top Ittipat (Pachara Marcel Chirathivat) yang sangat mahir dan hoki dalam permainan game online saat usianya 16 tahun. Lewat game, Top berhasil mengumpulkan banyak uang dari hasil menjual senjata langka dimana karakter lain mau untuk membeli menggunakan uang sungguhan. Namun, kesuksesan ini tidak bertahan lama setelah akun game miliknya terblokir karena dianggap melakukan perdagangan ilegal. Pada saat yang bersamaan, Top juga harus menerima bahwa dirinya tidak diterima di kampus negeri. Inilah awal dimana Top mulai mengalami proses jatuh bangun secara bertubi-tubi. Waktu berlalu, Top mulai menemukan keinginan bahwa ia ingin menjadi pengusaha. Ia ingin berjualan DVD, tapi ditipu. Berjualan kacang –dengan segala riset dan percobaan resep– yang cukup sukses, namun harus dihentikan karena bermasalah. Orang tua Top bangkrut, ia juga harus berhenti sekolah. Terpuruk, marah, dan kecewa, membuat Top ingin menyerah. Namun, di tengah keterpurukannya, Top pun menemukan ide untuk memulai hal baru dari temuannya terhadap jajanan rumput laut. Dari sinilah, proses ‘gagal-bangkit’ kembali terulang dan membuat seluruh kehidupan Top berubah.

Film ini benar-benar mampu menggambarkan proses jatuh bangun yang begitu realistis. “Kata gagal memang nyata dan akan selalui menghantui, tinggal bagaimana kita menyikapi” adalah salah satu point yang pas untuk menggambarkan kisah dalam film ini. Di umur yang begitu belia, seorang Top harus menghadapi begitu banyak struggle yang mungkin orang dewasa belum tentu mampu menghadapinya. Hal ini seakan bisa membuat emosi penonton begitu diaduk-aduk antara perpaduan ikut kecewa, senang, ataupun marah karena terlalu larut dalam cerita. Tidak heran jika film ini mendapatkan 88% audience score dalam situs rottentomatoes.com.

“Kamu pernah merasa hanya seperti camilan di alam semesta?” adalah ungkapan terkenang dari karakter Top saat ia sudah melalui kegagalan untuk kesekian kalinya. Film ini mengajarkan kita untuk pantang menyerah menghadapi kegagalan yang bisa terjadi kapan saja. Saat menemui awal-awal kegagalan, Top bersikap santai dan langsung memikirkan hal lain. Namun hal yang berbeda terjadi saat kegagalan itu terjadi untuk kesekian kalinya sehingga terasa begitu memuakkan untuk Top. Tapi Top tidak pernah berhenti mencari keberhasilan dibalik setiap kegagalan yang ia alami. Top yakin ia akan berhasil sehingga memutuskan untuk tetap berjalan maju. Selain memiliki pesan kuat dalam segi kegagalan dan jatuh bangun dalam proses, film ini juga seolah memberi garis bawah pada kata usia. Ya, usia. Di sini Top masih muda yakni 19 tahun. Ia dianggap belum cukup umur dan diremehkan. Top ditolak saat akan mengajukan hutang kepada bank untuk memulai usahanya karena faktor usia yang masih belia. Top berhasil membuktikan bahwa kaum muda juga mampu berhasil dengan cara mereka sendiri.

Bagaimana Jobhuners, apa kamu siap menonton film inspiratif ini? Atau mungkin kamu juga sudah merasakan sensasi larut dalam kisah Top “yang seperti camilan di alam semesta” ini? Apapun jawabannya, ingat untuk selalu pantang menyerah ya Jobhuners. Gagal bukanlah akhir, melainkan sebuah awal.

About Author

Masih Berkegiatan

2 Comments

  1. Terlalu keras kepala terhadap sesuatu bisinis yang ia lakukan saat pertama kali , sehingga ia merasa sombong dengan penghasilan ny

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami