Pasang Loker

Book Review: “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”

 

Jobhuners, seberapa banyak dari kita yang benar-benar bisa bersikap “bodo amat” ketika ada orang lain memberikan komentar yang cenderung mirip sebagai kritik destruktif pada diri kita? Tidak semua orang bisa melakukannya, lho. Percaya atau tidak, ketika kita dikomentari atau dikritik orang lain, orang lebih banyak memikirkannya daripada sekedar menganggap angin lalu. Kalau komentar dan kritik yang membangun dipikirkan sebagai bahan introspeksi sih boleh dan wajar saja. Lalu bagaimana dengan komentar dan kritik subjektif seseorang yang sebenarnya punya maksud ingin menjatuhkan? Bahaya dong kalau dipikirkan dan diikuti.

1

Terkadang, memang kita benar-benar harus percaya pada diri kita dan bersikap “bodo amat” dalam menghadapi teman-teman atau orang-orang yang sukanya terlampau jauh dalam menilai dan mencampuri urusan kita. Ini hidup kita. Benar jika kita makhluk sosial, tetapi bukan berarti kita harus mengikuti semua yang dikatakan orang lain. Makanya, penting untuk kamu mencoba membaca buku kece satu ini.

Judul aslinya adalah “The Subtle Art of Not Giving a F*ck” dan diterjemahkan dengan judul bahasa Indonesia “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”. Jangan mengartikan secara harafiah kalau buku ini mengajakmu untuk bersikap “Yang penting adalah diri sendiri” ya. Buku karangan Mark Manson ini inspiratif banget dan bisa dijadikan literatur pengembangan diri. Sekeren apa sih buku ini?

Dapat menepis quote manis tentang ‘Mensyukuri kehidupan’

Jangan sampai kamu berhenti membaca review-nya karena sub judul ini ya, Jobhuners. Oke, secara judul yang sudah frontal dan sensor yang tidak terlalu berfaedah, isi bukunya juga tidak kalah blak-blakan. Akan tetapi, bahasan yang ditulis dalam buku ini bisa dikatakan benar-benar jarang dipikirkan orang sebelumnya.

Sering membaca quote manis tentang pribadi dan kehidupan? Tidak jarang dong baca tulisan tentang ‘Kebahagiaanmu adalah hal penting’ atau quote semacam ‘You are special’? Manson justru menepis semua itu. Kelihatan seperti sedang menjatuhkan mental ya? Padahal, dia hanya berbicara fakta yang seharusnya tidak kamu lupakan.

Setiap bab yang dibicarakan dalam buku ini mungkin memiliki judul yang bahkan sudah memancing emosimu karena tidak sesuai dengan perkataan atau quote kehidupan yang sering kamu baca tetapi apa yang menjadi alasan di balik pemilihan kalimat tersebut sangat mendukung apa yang diingin disampaikan dalam bahasa yang lugas.

Kebahagiaan itu justru masalah. Maksudnya, Manson mengutarakan bahwa kebahagiaan merupakan produk dari keberhasilan menyelesaikan masalah. Hidup kita tidak pernah lepas dari masalah, bahkan setiap hari selalu ada saja masalahnya. Namun itulah esensi kehidupan. Kalau selama hidup kita tidak punya masalah, yakin kita masih hidup

Menyadarkanmu tentang “Hidupmu, pilihanmu”

Lebih fokus untuk membahas apa yang jadi judul bukunya secara keseluruhan (Dibahas secara mendalam pada Chapter 5), buku ini menjelaskan bahwa hidup kita ya kita yang memiliki kuasa untuk menentukan pilihan. Sebagai bagian dari seni untuk bersikap bodo amat, Manson mengutarakan kalau dalam hidup kita selalu dipenuhi pilihan yang harus kita ambil. Masalahnya, banyak sekali faktor yang akan memengaruhi keputusan kita dalam memilih pilihan tersebut.

Di chapter yang sama, Manson juga mengutarakan tentang tanggung jawab kita pada pilihan tersebut. Siapa nih di antara Jobhuners yang sering menemukan (atau mungkin malah sadar diri) kalau sering menyalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpa dirinya? Nah, hal seperti ini lah yang disebut sebagai tindakan tidak bertanggungjawab. Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Manson dalam bukunya, “We, individually, are responsible for everything in our lives, no matter the external circumstances”.

Yap, kalau pertanyaan kalian adalah “Kenapa bisa begitu?” ya jawabannya tidak jauh dari kuasa kita untuk membuat keputusan dalam memilih. Perlu digaris bawahi bahwa kata-kata “no matter the external circumstances” tersebut juga berlaku bahkan ketika kita mengalami hal-hal yang disebabkan oleh orang lain, alam, bahkan merupakan pemberian Tuhan. Contohnya, kamu di¬≠-bully oleh orang lain dengan hinaan fisik. Apa yang kamu lakukan? Melawan? Diam? Keduanya punya konsekuensi. Melawan yang bisa membawamu pada urusan panjang atau diam yang membuatmu harus menebalkan telinga. Pilih yang mana?

Mengajakmu realistis

Secara keseluruhan, yang bisa ditarik menjadi kesimpulan dalam buku ini adalah mengajak pembacanya untuk berpikir realistis dengan tujuan kita bisa lebih bersikap bodo amat – seperti judulnya. Mulai dari pembahasan bahwa kebahagiaan itu justru datang dari masalah, “menyadarkan” kita kalau kita bukan orang yang benar-benar spesial (seperti yang sering dijadikan quote untuk menaikkan kepercayaan diri), nilai-nilai perjuangan, ‘kewajiban’ kita untuk harus selalu memilih, dan chapter lainnya, adalah pembahasan step by step mengapa kita memang perlu menutup kuping dari banyaknya komentar orang yang kebanyakan hanya bersifat menghancurkan.

Hidup ini penuh dengan pilihan, Jobhuners. Termasuk untuk menjadi orang yang punya sikap bodo amat atau terlalu memikirkan pendapat orang. Semuanya punya sisi baik dan buruknya. Sepengamatkan kami, buku ini tak mendorongmu untuk benar-benar harus berubah menjadi orang yang lebih cuek. Perhatian pada orang lain atau mempertimbangkan kritik saran dari orang lain untuk kemajuan diri itu juga bagus kok, selama dilakukan tepat pada porsinya. Hanya saja, buku ini menjadi rekomendasi dan sebagai referensi untuk mengajak kita berpikir lebih realistis, sayang pada diri sendiri, dan belajar untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.

Penulis: Dhalia Ndaru Herlusiatri Rahayu

Editor: Cynthia Cecilia

About Author

CEO of Jobhun | Manager @dilosurabaya | Lead @facebookdevcsub | TechInAsia Chapter Leader SUB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Tanya ke Jobhun